Tag Archives: Motivasi

6 Pelajaran Hidup dari CEO baru Yahoo! – Marissa Mayer

Yahoo! resmi menunjuk mantan petinggi Google Marissa Mayer sebagai CEO barunya. Perempuan berusia 37 tahun ini memang punya segudang prestasi, di antaranya memprakarsai user interface Google Search yang sederhana dan bersih. Dia bahkan menjadi salah satu orang kepercayaan di Google.

Salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia teknologi ini membagikan filosofinya dalam hidup dan kerja yang membuat dirinya sekarang berada di puncak. Inilah enam di antaranya: Continue reading

Pujian adalah ujian

Martial ArtsRenungan di pagi hari ini saya ambil dari buku Al-hikam (Untaikan Hikmah Ibu ‘Athaillah).

Yang mudah tersanjung mudah tersandung. Berhati – hatilah kepada pujian. Sikapilah dengan cermat setiap pujian yang datang kepadamu. Lihatlah selalu bahwa dirimu adalah orang yang senantiasa diselubungi kelemahan, kekurangan, aib, cela, dan sifat-sifat buruk. Dengan demikian, engkau tidak terperangkap dalam jebakan yang bisa membuatmu hancur. Continue reading

Cinta kasih

Kebiasaan putri kami CDK untuk minta di temeni pada saat melihat lagu – lagu koleksinya di laptop membuat kami terkadang jengkel. Sering banget CDK minta di ganti dan ganti lagi pada saat nonton sampai – sampai kadang hadowwwww apa sih maunya nih anak.

Di suruh memilih sudah di pilih dah di setel minta di ganti dan ganti lagi.Tapi saat yang di minta cocok dan pas dia juga mengkeskpresikan kegembiraanya sampai – sampai berjoged ria dan ikutan bernyanyi. Saat ini malah CDK sudah mulai mengikuti apa yang di tonton semisal berhitung one sampai ten. Saya sebagai ayah tidak memaksakan dia untuk bisa apalagi masih di umur 2 tahun saya ingat akan beberapa bacaan dan referensi yang menyatakan  supaya anak tidak di ajarkan terlalu dini ke hal – hal yang mesti di hapal  karena masa itu masa bermain sampai nanti pas di umur 7 tahun dia siap memasuki sekolah SD. Continue reading

Perjuangan mencari ilmu

Saya berasal dari kampung yang jauh dari Jakarta, berawal tahun 1994 pada saat itu bulik yang di Jakarta menawarkan untuk melanjutkan sekolah pada waktu lulus  dari SMPN 2 Nawangan Pacitan Jawa Timur, sebagai anak kampung yang minus informasi bingung jadinya karena pada zaman itu masih jauh dari penyebaran informasi seperti saat ini yang ada hanya dari radio,  senang banget tapi bingung mau sekolah apa? Suaminya bulik kebetulan bekerja di Hotel menawarkan untuk masuk SMIP ( sekolah menengah pariwisata) yang sekarang menjadi SMK 57 Jakarta. Continue reading

Mendidik Anak

Pagi ini 17 April 2010, saya jam 7 pagi pergi ke rumah Ibu Sri  Dosen sastra Inggris di Bina Nusantara beliau juga mengajar di  Trisakti beliau  langganan saya untuk  komputer dan teknologi,  bisnis sambilan saya yang menuju  bisnis utama  yang sedang saya rintis saat ini.

Saya datang ke rumah beliau untuk mengantarkan pesanan dvd acara ulang tahun perkumpulan dokter – dokter angkatan  darat dimana sumai beliau adalah salah satu dokter di sana.

Hal menarik yang menjadi perbincangan pada pagi ini adalah cerita mengenai bagiamana beliau mendidik cucunya yang bernama adinda, dinda ini anaknya terlihat cerdas pintar dan juga santun, kenapa saya bilang cerdas karena saya sering bertemu pada saat saya berkunjung kerumah beliau dan sering ngobrol denngan dinda ,dari cara berbicaranya terlihat bahwa anak tersebut pintar dan smart bahkan saya cenderung kagum anak seusia dia yang baru kelas sd tapi sudah paham dan banyak kosa kata ilmiah yang terucap dari mulutnya yang terkadang menyentil hati nurani saya lah saya yang saat ini studi di master degree aza ngobrol suka ngaco ini anak kecil lebih better dari saya jadi tersindir deh.

Ok saya kembali Ibu Sri dalam mendidik cucunya satu yang jadi kebiasaaan beliau, dari kecil dinda selalu diperdengarkan lagu classic mozart dan teman – temanya pada saat waktu dinda belajar ataupun pada saat pagi – pagi , seperti pagi ini walaupun dinda tidak berada di rumah tetapi music classic juga di setel dan diperdengarkan ke seluruh rumah .

Beliau mengajarkan ke cucunya : makan mie boleh tapi dua hari sekali, jadi ceritanya cucunya itu suka makan mie tetapi dari sisi kesehatan mie mestinya kurang baik bagi kesehatan tetapi cara penyampaiannya bukan langsung melarang “kamu ndak boleh makan mie” tetapi dengan cara – cara yang elegan seperti diatas. Contoh ajaran yang lain lagi : beliau mengajarkan ke cucunya agar tidak jajan di sekolah tetapi di bawaain bekel makanan dari rumah nah suatu kali beliu menawarkan ke cucunya untuk membawa uang buat jajan dan cucunyapun membawanya dan jajan sampai dirumah cucunya cerita kalau jajan malah ndak enak ngantri pas dapat bel masuk sudah berbunyi berarti lebih enak bawa bekel makanan dari rumah “pelajaran di dalamnya adalah ditanamkan di anak bahwa jajan itu tidak selalu baik bahkan cenderung kurang baik dilihat dari beberapa sisi”.

Saat ini di ikutkan kegiatan tari yang pentasnya ada di dalam dvd yang saya gandakan pada saat ini, jadi walaupun dia anak yang tinggal di jakarta tetapi dalam hal budaya di kenalkan semenjak kecil agar budaya nenek – moyangnya bisa di mengerti dan di sukai dari semenjak dini.

Wah jadi kefikir bagaimana nanti saya mendidiknya anak nanti ya? tentunya pelajaran berharga ini saya camkan dalam diri dan nanti akan menjadi modal dalam mendidiknya  setelah lahir kedunia.

Going to extra miles

Going extra miles adalah pepatah yang bisa memotivasi  agar bisa menjadi lebih baik dalam kualitas diri arti umumnya kira – kira adalah =  memberikan lebih daripada yang diharapkan dari seseorang.  Kalau saya mengartikannya sebagai mesti melakukan daya dan upaya itu lebih dari yang diminta analoginya begini:

  1. Kalau nilai kelulusan sekolah adalah minimal 7 maka saya mesti mendapatkan nilai 8.
  2. Kalau pimpinan kerja saya mengharapkan pekerjaan tuntas besok maka saya mesti tuntaskan hari ini.
  3. Apabila teman – teman saya kuliah sampai S1 maka saya harus sampai s2.
  4. Kalau orang di sekitar saya suka berbelanja ke mall atau jalan – jalan ke tempat rekreasi kita jangan hanya ikutan jalan – jalan dan rekreasi tapi kita menciptakan mall atau tempat rekreasinya.
  5. Kalau orang shalat hanya yang wajib saya mesti menambahkan shalat yang sunah rawatib, dhuha dan lainya.

Itu analogi yang coba saya berikan, tetapi analogi tersebut juga tidak perfectionis atau kudu dan wajib di karenakan di dalam diri itu ada yang namanya penyakit riya atau terselib kesombongan yang terkadang tidak di sadari, tentunya hal di atas di lakukan dengan tujuan untuk menjadi lebih baik memiliki nilai lebih dan menggedor semangat agar terus berkreatifitas jangan puas sampai pencapaian yang standart kalau bisa berbuat lebih kenapa mesti berbuat yang biasa.

Saya merasa senang di waktu kecil di kala lebaran tiba,  karena apa?  saya sering mendapatkan uang dari sanak – saudara dan handai taulan yang di hari – hari biasa untuk mendapatkan seribu saja hanya mimpi, nah di hari lebaran justru   beribu – ribu saya dapatkan, arti dari cerita saya adalah bahwa yang saya impikan seribu tapi kenyataanya saya mendapatkan lebih, secara manusaiwi itulah kenapa kita mesti going to extra miles.

Apabila diri kita terbiasa melakukan going to extra miles dalam kondisi apapun dengan di sertai niat ikhlas , legowo dan benar – benar dengan mencari ridho Allah , sepantasnya akan mendapatkan benefit lebih.

Di novel negeri 5 menara yang saya baca sewatku liburan tanggal 18 – 20 /12/09  kemaren di ceritakan bagaimana kehidupan siswa pondok pesantren  di biasakan untuk melakukan going to extra miles dengan pemberlakuan menggunakan bahasa asing yaitu arab dan english dalam percakapan sehari – hari selama 24 jam dan bagi yang melanggar dikenakan hukuman yang ketat sampai – sampai di keluarkan dari pondok apabila melanggar, semenjak 4 bulan menginjakkan kaki di dipesantren tersebut. Di awal diceritakan bagaimana sulitnya mengikuti program tersebut tetapi dengan pengkondisian tersebut maka hal itu menjadi nyata setelah masuk di bulan 5 maka mereka menjadi lancar dan terbiasa dan mereka memperoleh hasil yang luar biasa . Inti dari hal tersebut adalah going to extra miles.

Kata – Kata Motivasi

Belajar dari hari kemaren untuk hidup hari ini dan menjadi yakin untuk hari esok, kata – kata ini saya ambil dari andrie wongso. Hari ini sedikit ngerasa drop lagi nih motivasi nah iseng – iseng cari dan buka websitenya andriewongso karena kebetulan saya yang handle server hostingnya. Eh nemuin dah kata – kata itu jadi aku renungkan.

Belajar dari kejadian – kejadian ataupun hal – hal yang sudah di lewati di hari kemaren itu rasanya bener banget deh, karena hidup memang terus berjalan, dan konseptualisasi  memang luas tetapi di pahami secara simpel aza akan lebih nyaman karena kemaren ini bisa di artikan sehari, dua hari atau malah sepanjang kehidupan kita yang sudah di jalani jadi pengertian kemaren memang bisa ambigu tetapi akan lebih cantik apabila pengertian tersebut di artikan kehidupan kita yang telah di jalanan dari lahir sampai detik saat ini.

Trus hari ini, detik inilah kita mesti menikmati kehidupan tersebut artinya apa? kita boleh menabung bermimpi dan juga melakukan hal – hal yang terus kita inginkan agar tercapai apa yang di cita – citakan tetapi detik saat inilah sebenarnya kita hidup itu bukan besok kemaren ataupun akan datang makanya rasa syukur atas yang kita punya detik ini dan hari ini itu mesti di lakukan dan  di manfaatkan sebaik mungkin jangan terlewat tanpa makna serta berbuat yang berarti positif walupun terkadang kenyataan berkata lain. So enjoy bersyukur dan terus berkontribusi yang baik apapun bidang yang kita geluti.

Setelah kita menikmati hari ini tentu kita juga punya hak dan juga pandangan akan hari esok nah kalau hari ini sudah positif dengan kontribusi yang positif pula maka hari esok pun akan ceria dan semangat terus berkobar dalam diri.

Belajar dari Pendiri Google

larry-page-sergey-brinSabtu malam 31 Mei 2008 Metro TV menayangkan Biography pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Dua anak muda ini berhasil mengubah dunia dengan mesin pencari kata yang dapat menemukan apa yang kita cari dalam 0.59 detik. Saat mendirikan Google, mereka adalah mahasiswa PhD yang sama-sama masih berumur 23 tahun.

Dari segi bibit, keduanya mewarisi kecerdasan orangtua masing-masing yang merupakan profesor. “Pantesan aja pintar”, kata kita yang iri. Padahal, tidak sedikit juga anak profesor yang jadi orang biasa saja. Sergey hijrah dari Rusia pada saat dia berumur 6 tahun sehingga dia merasakan bagaimana perjuangan keluarga imigran.

Mulanya, Larry dan Sergey menawarkan proposal kepada perusahaan yang sudah ada untuk menjalankan ide mereka. Tetapi, tidak ada perusahaan yang mau dengan anggapan sudah ada mesin pencari kata, dan tidak perlu ada yang baru lagi. Dengan penolakan ini akhirnya mereka mendirikan sendiri perusahaan mereka.

Penemu biasanya memang selalu mendapatkan penolakan. Dengan kegigihan dan keyakinan, biasanya sang penemu berhasil mewujudkan impiannya.

Salah satu yang menarik dari mereka adalah niat awal pendirian Google bukanlah untuk mencari uang, tetapi lebih kepada untuk menyebarkan informasi kepada umat manusia. Wah, mulia banget ya.

Memang biasanya, penemu atau orang besar berhasil berpikir melampaui jamannya, tidak seperti pola pikir orang awam yang sekedar bermaksud memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita sekolah biar pintar. Setelah pintar mudah cari kerja. Kerja untuk cari duit. Dengan banyak duit kita bisa hidup senang.

Lary dan Sergey bukanlah tipe orang yang berpikir seperti orang kebanyakan. Karena itu, barangkali kita harus lebih memberi pendidikan kepada anak-anak kita untuk berpikir seperti mereka berdua. Kalau menurut pakar motivasi, kita harus mendahulukan to be bukan to have. Jika to be sudah tercapai, biasanya to have akan mengiringinya dengan sendirinya,

Salah satu yang menarik lainnya adalah, kehidupan mereka yang tetap sederhana. Dengan jumlah kekayaan masing-masing senilai 4 milyar dolar AS atau sekitar 36 trilyun rupiah, sebenarnya mereka bisa beli apa saja. Kebalikannya, mereka tetap hidup zuhud. Bahkan Larry belum mengganti mobil Hondanya yang sudah berumur 10 tahun. Mereka juga masih tinggal di apartemen, gaya hidup yang efisien bagi warga Amrik sono.

Hal ini sangat kontras dengan kelakuan kebanyakan kita yang perusahaannya baru berkembang, karirnya baru menanjak, tetapi sudah bergonta-ganti mobil. Kredit lagi… Yang penting mah gaya euy….Biar tekor asal kesohor.

Setelah perusahaan berkembang, dari karyawan yang dulu cuma 100 orang, kini sudah lebih dari 10.000 orang, Larry dan Sergey sadar bahwa mereka tidak bisa lagi terus memimpin. Karena itu, mereka merekrut seorang profesional yang menjadi CEO Google. Kesadaran ini perlu diteladani para pemimpin kita yang sudah lama berkiprah tetapi tidak mau mundur, bahkan ingin kembali memerintah.

Sumber