Category Archives: Falsafah Jawa

Guru Sejati

resi durnaGuru sejati tak pernah mengabarkan bahwa dia memiliki ilmu. Dia juga tak pernah berkehendak mengumpulkan murid sebagai tempat berbagi kesaktian. Justru para murid itu yang datang dengan sukarela untuk menimba pengetahuan…

Guru sejati tidak hanya  tahu ilmu baik, tapi juga banyak menguasai kelamnya ilmu untuk kejahatan yang paling gelap sekalipun….

Guru sejati akan rela dan tetap melaksanakan tugasnya meskipun orang menganggap dia bukan seorang guru sejati….

Guru sejati adalah manusia biasa…

Sumber: Buku ,”Resi Durna Sang Guru Sejati ” oleh Pitoyo Amrih

Ora tedas tapak paluning pande..

Kesempatan ini saya ingin menulis mengenai falsafah jawa. Sebagai orang keturunan jawa dan lahir di jawa. Saya berdekatan dengan istilah – istilah jawa yang sering di ucapkan oleh kedua orang tua. Tetapi pemahaman mengenai arti dari istilah tersebut hanya sekilas dan terkadang kurang pas.

Saat ini saya membaca buku wayang sebagai simbol hidup dan kehidupan manusia hadiah dari Ibu Sri Yatini salah satu dosen Universitas Trisakti buku tersebut adalah hasil tulisan beliau. Setelah membaca buku ini saya sedikit mengerti berbagai ungkapan atau ular – ular bahasa jawa.

Ungkapan yang saya pilih saat ini “Tinatah mendat jinara menter. Ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindro“. Diucapkan oleh orang yang ingin menunjukkan kemampuannya (terutama fisiknya) atau tidak takut oleh tantangan atau ancaman apa pun karena merasa sudah mumpuni untuk bersaing. Continue reading