Pulau untung jawa

kapalHari sabtu tanggal 8 november 2014 kami dari team IT Infrastruktur Surya University, ditambah beberapa teman mahasiswa melakukan petualangan atau tepatnya penyegaran fikiran  ke pulau untung jawa. Berangkat jam 9 pagi dari gading serpong melalui jalan cikokol mengarah daerah sepatan  berakhir di tanjung pasir,  jalanan sepi lancar adapula yang macet, overall jalanan yang kami lewati banyak terdapat lubang apalagi mendekati daerah tanjung pasir  , tepat jam 11 siang kami mendarat di tanjung pasir tempat penyeberangan ke pulau untung jawa.  Negoisasi dilakukan dengan pemilik kapal, kami membayar Rp. 40.000,- perkepala untuk trip bolak – balik setelah negoisasi dilakukan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dengan gembira kami menyeberang diselingi canda dan tawa ceria, diiringi burung – burung terbang di atas lautan luas, waktu yang diperlukan kurang lebih 45 menit. IMG-20141108-WA0032

Mas devi berdekatan dengan teh ima

Ombak terlihat tenang dan damai, sampai di daratan pulau kami membayar  tukang perahu, dan langsung diminta membayar biaya trip pulang pergi, awalnya kami meminta untuk membayar biaya berangkat saja tetapi mereka tetap meminta tarif pp dan menjelaskan untuk pulang bebas memilih kapal mana saja,”ini sudah peraturan di sini” kata si tukang kapal, ya sudah kami mengikuti kehendak beliau. Sampai di penyebrangan kami di sambut ikan – ikan yang  berenang dengan bahagia di air yang tampak jernih, perjalanan kami lanjutkan untuk mencari tempat ibadah, saya lebih mendahulukan mencari tempat makan karena perut sudah terasa perih, inget pesan bunda untuk menjaga kondisi badan jangan drop. Sepanjang jalan yang saya lewati tidak ada makanan yang menggugah selera, sebenarnya sayang sekali di tempat wisata seperti ini tetapi pilihan makanannya sangat sedikit. Saya berhenti ditempat makan “Po lela , sempat berfikir ini tempat jualan tiket buskah? setelah saya tanyakan kesiempunya warung dijelasin mestinya tertulis “mpok lela”,  bahasa gaul orang pulau membuat pusing kepala onta ternyata.

Saya memilih makan gado – gado lontong di tambah suwiran daging ayam goreng walaupun melihatnya kurang selera karena makananya sudah tidak terlihat segar, tetapi tetap saya lahap supaya pertahanan tubuh tetap kuat dari terjangan angin laut.IMG-20141108-WA0041

Mas ranto memilih menu sayur asem

Kami lanjutkan tiduran di saung yang ada di bibir pantai sambil menikmati pemandangan lautan di depan mata, menyaksikan orang – orang bermain banana boat, donat, orang memancing dan beberapa kapal motor yang minggalkan  ombak bergelora.

JpegDCIM100MEDIASelesai beristirahat kami lanjutkan menelusuri pinggir pantai mencari tempat bermain air, kami berjalan menuju arah pulau rambut, kami memilih tempat yang banyak pohon bakau di sini kami membuat basecamp di tempat yang sudah di sediakan oleh para penunggu pulau untung dengan membayar Rp 10.000,- untuk satu tikar.IMG-20141108-WA0061Teman – teman langsung mencari ban dan bermain di pinggiran pantai, saya sendiri lebih memilih duduk menikmati udara dan pemandangan yang aduhai di depan mata. Sambil saya memesan ikan bakar, saya kepengen makan ikan gurih pasti rasanya, makan ikan sambil memandang lautan yang luas. Saya memesan ikan kakap merah satu plus nasi dan sambal seharga Rp 50.000,-. Sembari saya menunggu makanan datang yang ternyata cukup lumayan lama sekitar 30 menit saya pergunakan waku untuk foto – foto di bibir pantai.Jpeg Akhirnya pesanan makanan datang, saya menikmati makanan dengan di temani kucing yang entah datang darimana, coba bayangkan apakah kucing datang kepulau ini berenang dari daratan ? entahlah atau mereka justru datang dari langit ke delapan ? hanya tuhan yang tau. Saya di tungguin dengan sabar oleh kucing sesekali dia meminta bagian sambil terus mepet ke saya.

Ritual makan selesai saatnya saya ikut terjun kepantai untuk bermain banana boat. Sudah lama sekali saya tidak main,terakhir saya bermain saat tour it directorate univ bina nusantara entah tahun berapa. Harga naik banana boat Rp 15.000 per-orang, saat naik saya cukup lumayan deg-degan, kamipun di jatuhkan ke lautan langsung deh air laut yang terasa asin masuk kehidung dan mulut, di tambah menakutkan lagi saat mengambang di lautan sedangkan kemampuan berenang yang minim, kami di jemput abang banana boat untuk ronde kedua, kami di bawa berputar – putar dan di jatuhkan, lucunya saat  di jatuhkan  kami semua sudah siap dengan teknik masing-masing dan sialnya ternyata oh ternyata kami di jatuhkan di tempat yang dangkal efeknya apa? ada beberapa teman yang saking siapnya langsung terjun kebawah dan terpentok batu karena dangkalnya, di kira masih dalam airnya sepertisaat di jatuhkan di awal yang masih di tengah laut, sambil meringis mereka protes ” bang kirian dijatuhin di tempat yang dalam tuh jadi sakit kan kepentok batu” saya hanya tersenyum saja mendengarnya.IMG-20141108-WA0053

Selesai bermain kami kembali ke bibir pantai , saya mencoba sambil berenang. Saya mengajak bermain donat sepertinya menegangkan. Ada 4 orang yang bersedia sedangkan Devi saya paksa ikut karena, awalnya tidak mau ikut dengan alasan takut jantungan  “huahaaaaaaa”, akhirnya kami berlima ikut bermain dengan harga masing – masing  Rp 25.000,- per-orang. Kami bisa teriak lepas dilautan, andrenalin kami meningkat drastis efek kami di putar – putar,  tetapi devi tetap ketakutan diam seribu kicauan sambil mata terpejam, dasar katrok memang “huahhaaaa”. Saya teriak sepuas – puasnya sambil berpegangan di donut, kalau sampai terlepas bisa jadi kami  akan terjun bebas ke lautan, walaupun memakai pelampung tapi efek magis lautan cukup membuat deg – degan dan sangat menakutkan bagi kami yang sehari – hari tinggal di daratan.IMG-20141108-WA0054

Siap – siap bermain donut (Ane, devi, ayu, ima dan nona ranto)

Tak terasa permainanpun berakhir dan kami kembali ke bibir pantai, waktu menunjukkan jam 16.00 kami mesti siap – siap kembali menyeberang. Kami membilas badan, shalat ashar menikmati bakso, yang entah rasaya bagaimana?  karena saya masih merasa kenyang saya memilih membeli mangga, sebagai persiapan diperjalanan nanti, saya perkirakan jam 9 malam baru sampai di kantor kembali. Menuju dermaga penyeberangan saya sempatkan membelikan baju buat putri CDK seharga Rp 35.000,- bukan kualitas baju yang saya kedepankan tetapi tulisan di bajunya “pulau untung jawa”.

Jam 5 kami sampai dermaga untuk menyeberang suasana beda dengan saat kedatangan yang kondisi kapal cukup sedikit penumpang, saat ini justru penumpang full, nun di kejauhan mendung bergelayut menandakan akan turun hujan, tetapi kami tetap berfikir positif bahwa akan baik-baik saja, saya sempat terbersit untuk menginap saja, karena sudah cukup lumayan sore sempat bertanya penginapan di sini kisaran harganya adalah Rp 300,000. ,Rp 400,000., Rp 500.000, yang membedakan ukuran kamar fasilitasnya tv , kulkas, ac, tempat tidur dan kamar mandi air payau, istimewah tentunya badan serasa dibuat ikan asin kalau mandi air payau (air yang berasa asin).

Ok kami berangkat pulang kedaratan selamat tinggal pulau untung jawa, walaupun sebentar kami bisa bersenda gurau dan menyegarkan fikiran, entah suatau hari kami kan kembali. Saat perjalanan 15 menit angin mulai bertiup kencang ombak mulai bergelombang dengan liarnya, di kejauhan halilintar menyambar tanda hujan sudah turun di sertai kilat yang membuat merinding, tak berapa lama kejadian mencekam itu timbul.

Hujan deras disertai angin dan ombak yang menggila kapal sudah hampir tenggelam, sang nahkoda berusaha keras untuk menenangkan kapal dengan tidak melawan ombak tetapi mengikuti alur ombak. Beberapa penumpang langsung bershalawat, takbir, dan berdoa masing – masing, saya duduk paling pinggir sangat mengerikan melihat ombak tinggi siap melahap kapal yang kami tumpangi, di tambah dengan kilat dan halilintar yang siap menyambar pula. Situasi dramatis dan menegangkan ini berlangsung cukup lama hanya satu yang terlintas di benak “kematian”. Kondisi kapal penuh penumpang , gelap gulita, badan basah kuyup, barang – barang bawaan gak ada yang luput dari air hujan, penumpang juga banyak orang tua dan anak – anak kecil menambah suasana menjadi mencekam.

Setelah sejam lebih bergulat di gulungan ombak dan badai kapal kami bisa menepi, tetapi masalah belum usai, kapal yang kami naiki tidak bisa merapat  karena terjadi pendangkalan, kami mesti berputar mencari air yang lebih dalam, rasa was – was dan takut yang sempat menghilang timbul kembali. Lantunan doa terus mengalir dari mulut – mulut kami. Saat kapal bisa menepi kami pun harus turun nyebur kelaut karena kapal tidak bisa benar – benar merapat ke pinggir, ada yang mesti turun dengan air sepinggang dramatisasi belum usai. Sampai di pinggir kami langsung mencari toko baju dan hasilnya nihil tidak ada yang jual pakaian, kami mesti berbasah – basahan. Saya langsung minta pesen teh manis panas ke ibu penjual minuman yang kami temukan, di daratan juga terlihat bekas hujan deras.

Perjalanan pulang kami lanjutkan dengan pakaian basah.. ditengan perjalanan kami menepi untuk beli pakaian dan langsung dipakai. Pengalaman pertama bagi saya membeli pakaian dan langsung ganti di tempat, dari pakaian dalam sampai pakaian luar .. menggelikan dan lucu .. .

Sambil bercerita kami lanjutkan perjalanan menuju base camp tercinta di surya university. Satu lagi selama perjalanan pulang saya mendapatkan kerjaan sampingan  mesti mengelap kaca mobil yang kami tumpangi dikarenakan selalu berembun efek hujan “hadewwww”.

One thought on “Pulau untung jawa

  1. Pingback: Akuaponik | Cahpct (cah pacitan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s