Belajar enterpreneur

nasi udukBerawal dari keinginan untuk menjadi enterpreneur saya selalu mencoba – coba mencari peluang. Baru – baru ini saya lakukan adalah dengan menjual nasi uduk. Saya melakukan survei tempat di area samping gedung STKIP surya gading serpong.

Saat survei saya coba ngobrol dengan salah satu penjual di sana ,apakah ada restribusi? apakah ada penertiban? trus ijin kesiapa ? kalau mau berjualan di sini? Di jawab mereka tidak ada, saya fikir bagus untuk memulai, tinggal mencari sdm .

Selanjutnya saya diskusi dengan istri dan yang jaga anak untuk mencoba jualan nasi uduk kebetulan yang jaga anak pernah berpengalaman jualan. Akhirnya kami sepakat untuk berjualan si bude yang masak dan memberi training selama seminggu kepada yang jaga tentu mendapatkan upah tambahan dari presentasi penjualan selain memang sudah menjaga cdk.

Mulailah saya mencari alat – alat pendukung :

  1. Meja lipat = Rp 180.000,-
  2. Kursi 4 pcs = 160.000,-
  3. Belanja bahan makanan = Rp 500.000,-
  4. Beberapa kotak dan alat masak = Rp 150.000,-

Selesai belanja saya menghubuni miftah alumni staff surya, kebetulan dia lagi kosong jadinya setuju untuk menjaga nasi uduk.

Senin 21 September kami perdana jualan, berangkat jam 5.20 menit sampai di tempat jam 6.10 menit , lapak langsung kami buka. Penjualan hari pertama cukup istimewa nasi uduk ludes dan jam 11 kami tutup lapak dengan harapan esok lebih dahsyat.

Di hari kedua bude inisiatif untuk menaikkan jumlah nasi uduk menjadi dua kali lipat dan di tambah nasi rames. Kebetulan saya hari ini menjadi pembicara workshop di surya jadi saya sampaikan baru bisa mengantar pulang jam 1.

Eh jam 10 an saya di telpon kalau ada rasia gabungan security summarecon di larang berjualan, saya sampaikan ya udah beresin nanti kalau sudah rapi saya jemput. Bude njawab ya udah mas tanggung lanjutin aza ngajarnya,  saya coba tunggu sayang sepi , jualan masih banyak . Ya sudah saya lanjut memberi workshop sampai jam 12 . Jam 12 lewat saya meluncur ke tkp, cuaca cukup panas dan kami pun rapi – rapi, jualan  masih lebih dari separoh  untuk nasi uduk dan nasi rames baru kejual sedikit sekali.

Saya berfikir ya sudah ini resiko jualan yang pasti mesti berfikir untuk esok jualan lagi or nyari lapak di belakang area perkampungan yang aman. Sepanjang jalan kami diskusi sambil tertawa sedangkan miftah kembali ke kontrakan dan mengemasi meja kursi.

Hari rabu pagi jam 5 tiba – tiba bude pamitan pulang kampung dan bilang gak balik lagi, hadew ada apa lagi ini, dengan alasan gazebo dia langsung pamit pulang istripun masih belum nyambung karena baru melek dari tidur.

Dan hari ini sabtu 27 september jualan nasi uduk stop sampai waktu yang tidak di tentukan, kabar terakhir miftahpun mudik juga dengan tanpa informasi sebelumnya saya hubungi tidak di angkat.

Semangat yang tadinya membara untuk berusaha enterpreneur menjadi galaw untuk sekian saat. Saya yakin akan ketemu jalan kembali.

Tetap semangat dan terus berusaha “tak ada jalan lurus menuju sukses”.

 

 

 

One thought on “Belajar enterpreneur

  1. Pingback: Kegilaan selanjutnya | Cahpct (cah pacitan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s