Subuh

subuhJam 4 saya terbangun , tak biasanya saya bisa bangun sepagi ini. Padahal semalam tidur juga jam 12 malam. Hal yang sudah tak biasa, malah kalau bisa di bilang ini rada mukzizat. Memang beberapa hari yang lalu saya membuat mindmap untuk evaluasi diri. Dalam mindmap tersebut saya mencantumkan shalat subuh berjamaah di masjid.

Saat bangun masih sepi bunda dan cdk masih tertidur pulas, semua anggota keluarga belum ada yang terbangun, dengan penuh semangat saya siap – siap berangkat ke masjid, dengan harapan bisa menghirup udara pagi yang masih segar, bertemu orang – orang yang tawadhu untuk menghadap sejenak ke Allah. Membuka pintu rumah mendapat ujian pertama, tembok rumah samping di gedor – gedor sama orang yang kurang waras samping rumah, timbul deh emosi, saya coba samperin kedepan rumahnya dan saya tungguin sebentar apakah masih berlanjut apa tidak , bisa – bisa kalau masih berlajut bukan berjamaah ke masjid tapi malah berantem. Alhamdullilah setelah di tunggu sejenak orangnya ngumpet di dalam rumah karena tau saya tungguin didepan rumahnya, coba kalau keluar bisa saya ajak ke masjid siapa tau bisa sembuh dari penyakit kurang warasnya.

Jalanan menuju masjid masih sepi rumah – rumah masih belum pada terbuka, tak satupun saya bertemu orang sepanjang jalan. Sampai masjid saya mengambil air wudhu dan melakukan shalat sunah sambil menunggu shalat jamaah dimulai. Beberapa saat menunggu iqomah dikumandangkan pertanda shalat subuh dimulai, saya sempat memperhatikan berapa shaft yang hadir di shalat subuh tersebut, saya hitung ada 2 setengah shaft yang hadir. Terfikir bersyukur saya masuk di shaft pertama, dengan harapan bisa mendapatkan kemuliaan yang lebih.

Shalat berlansung dua rakaat di tambah doa qunut dan dilanjutkan berzikir. Usai shalat saya kembali kerumah, saat lagi jalan di tegur bapak – bapak “dik apa kabar? alhamdullilah baik pak”. Mari dik saya duluan? oww iya pak silahkan pak. Bahagia banget di jalanan jakarta yang serba individualis, ternyata bertegur sapa dengan bahasa yang begitu indah membuat hati begitu nyaman. Teringat masa – masa di kampung saat masih sekolah sd dan smp, dimanapun bertemu orang pasti saling menyapa. Andaikan kebiasaan itu bisa terus di lakukan tentu hidup kita bisa lebih berwarna dan penuh makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s