Hidup adalah perubahan, beradaptasilah

adaptMasa yang menyulitkan saya alami saat dulu mulai sekolah di jakarta. Sehari – hari saat masih di  pacitan, saya menjadi anak penurut jarang melanggar peraturan yang di buat mamak.

Dengan budaya orang jawa yang mengedepankan penghormatan ke orang lain apalagi ke orang yang lebih tua, dimanapun kami bertemu selalu menegur dengan sopan “bade tindak pundi” ” saking pundi” (mau kemana , dari mana). Saat saya berpindah kejakarta terjadi perubahan budaya yang sangat signifikan.

Bertemu orang saling acuh tak acuh, saat di sekolah temanpun sedikit, apalagi bertemu anak – anak yang memang sehari – hari sudah hidup di jakarta, mereka sudah terbiasa dengan bahasa – bahasa umpatan semisal “anjing” sungguh berbeda dengan kehidupan saya di kampung. Di jakarta saya sering dijadikan bahan ejekan karena kemedokan, keluguan, kejujuran saya, sampai membuat minder. Nilai sekolah yang saya dapatpun cukup menyedihkan, saat di kampung saya terkenal dengan juara kelas tapi saat di jakarta nilai merah di rapotpun saya dapatkan, sampai – sampai saya di panggil guru bahasa inggris saat akhir semester kelas satu,  di suruh bersumpah untuk memperbaiki nilai di kelas dua nanti kalau tidak saya di kasih rapot merah oleh pak Joe namanya kalau nilai merah artinya saya tidak naik kelas, akhirnya saya bersumpah dan  langsung mengambil les di LIA, walaupun sulit saya bisa lulus les, sampai tingkat advance itupun di selingi tidak naik level 2 kali saat intermediate 2 dan basic 4 , waktu yang saya tempuh untuk lulus cukup lumayan lama, sampai saat saya sudah bekerja di BiNus saya masih les di lia.

Kembali cerita di sekolah, saat saya  naik kekelas dua, kondisi masih belum banyak berubah, untuk meningkatkan motivasi dan menaikkan mental saya mengikuti les beladiri taekwondo dan merpati putih, saya juga ikut paskibra. Inipun saya masih minder karena kebanyakan les efeknya tidak fokus belajar malah kelelahan nilai tetap belum menggembirakan. Naik di kelas 3 saya mulai ada perubahan sedikit dan sempat saya menempati peringkat 3 di kelas. Di akhir sekolah saya harus puas dengan nilai yang kurang menggembirakan.

Kemampuan beradaptasi yang sangat minim tersebutlah yang membuat saya kurang berhasil mendapatkan prestasi saat disekolah. Belajar dari pengalaman itu saya memulai pekerjaan di kantor berusaha untuk beradaptasi dengan segala kondisi dan situasi. Apalagi dalam 5 bulan terakhir ini saya sudah dua kali pindah kantor. Bersyukur saya  sudah mampu beradaptasi dan sangat nyaman menyambut setiap perubahan yang ada malah saya mencarinya untuk terus menambah teman dan sahabat baru. Saya sekarang berani berkata “Hidup adalah perubahan, beradaptasilah”.

One thought on “Hidup adalah perubahan, beradaptasilah

  1. Fero

    Dalam hidup memang harus berpandai-pandai beradaptasi. Terutama dalam bersosialisasi sesama mahkluk sosial, kita sebagai mahkluk sosial harus bisa menempatkan diri dan membawa diri agar dapat diterima dengan baik di masyarakat.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s