Ora tedas tapak paluning pande..

Kesempatan ini saya ingin menulis mengenai falsafah jawa. Sebagai orang keturunan jawa dan lahir di jawa. Saya berdekatan dengan istilah – istilah jawa yang sering di ucapkan oleh kedua orang tua. Tetapi pemahaman mengenai arti dari istilah tersebut hanya sekilas dan terkadang kurang pas.

Saat ini saya membaca buku wayang sebagai simbol hidup dan kehidupan manusia hadiah dari Ibu Sri Yatini salah satu dosen Universitas Trisakti buku tersebut adalah hasil tulisan beliau. Setelah membaca buku ini saya sedikit mengerti berbagai ungkapan atau ular – ular bahasa jawa.

Ungkapan yang saya pilih saat ini “Tinatah mendat jinara menter. Ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindro“. Diucapkan oleh orang yang ingin menunjukkan kemampuannya (terutama fisiknya) atau tidak takut oleh tantangan atau ancaman apa pun karena merasa sudah mumpuni untuk bersaing.

Keangkuhan akan kekebalan yang mencelakakan diri terjadi pada Adipati Harya Penangsang dari wilayah Demak, Jawa Tengah. Harya Penansyang, seorang pemarah dan sombong, suka sesumbar akan kekebalannya, merasa ora tedas tapak paluning pande (tidak mempan oleh senjata apapun) tidak mau tunduk kepada atasanya. Pada suatu hari terpancing kemarahanya akan ejekan dari lawannya, Sutawijaya, yakni telinga tukang mencari rumputnya dipotong dan di tempel surat tantangan, sifat brangasan dan sombongnya keluar. Tanpa pikir panjang dia naik Gagak Rimang, kuda jantan kesayangan dan kebanggannya, dalam busana lengkap perang dengan keris ampuhnya Setan Kober terselip di pinggangnya, lari menuju sungai perbatasan wilayah. Dalam peperangan, sungai ini tidak boleh dilewati. Ada kepercayaan bahwa siapa yang menyeberang akan kalah. Dalam menghadapi Harya Penangsyang, Sutawijaya menggunakan kuda betina yang tentunya menimbulkan ejekan dari Harya Penansang. Di luar dugaan Harya Penangsyang, melihat kuda betina, Gagak Rimang tidak bisa menahan diri lagi dan langsung meloncat menyeberangi sungai menuju arah lawan. Dalam posisi ini pihak lawan tidak mengalami kesukaran untuk melembar tombak ke arah Harya tepat  kena perutnya. Ususnya pun terburai keluar. Harya semakin tidak mamu mengendalikan emosi, dan kesombongnnya menolak untuk mundur, dia tetap akan melawan demi harga dirinya. Tanpa sadar, usus yang terburai tadi dicantelkan kekeris sambil tetap memegang kendali kuda. Gerakan kuda yang membuat tubuhnya bergerak ke atas dan ke bawah menyebabkan teriris-irisnya usus Harya Penangsyang. Seketika tewaslah dia.

Moral yang saya peroleh adalah sekuat dan sesakti apapun manusia pasti mempunyai kelemahan apabila hanya menimbulkan kesombongan dan ketidak  mampuan mengontrol diri maka justru akan membinasakan diri sendiri.

Referensi : wayang sebagai simbol hidup dan kehidupan manusia oleh Sri yatini Ay hal:134

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s