Satu mulut dua telinga

Menarik ternyata menggagumi ciptaan Allah untuk dua hal ini ? saya sering merenung dalam kepandiran atau kekurangan ilmu yang saya miliki membuat saya mencari jalan pintas untuk menggagumi apa yang telah di ciptakan oleh Allah SWT untuk diri saya .

Kenapa ya kita diberikan satu mulut dua telinga? duh jadi penasaran kenapa ndak sama – sama di berikan 2  jadi adilkan , lah trus kalau dibilang adil itu yang bagaimana ? kalau kata guru sekolah saya waktu sd adil bukan berarti sama persis semisal ada dua anak satu di kasih uang yang satu juga di kasih uang yang sama jumlahnya tetapi adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya . Untuk kasus mulut dan telinga apakah ini adil jadinya?

Akan lebih baik mencoba membayangkan andaikan kalau mulut dua apa yang terjadi berbarengan berbicara dengan konteks yang berbeda – beda tak terbayangkan pengen telinga mendengarkan trus sinkronisasi antara keduanya bagaimana ? antara otak dan mulut yang akan mengeluarkan kata – kata bagaimana tak terbayangkan dunia pasti bakalan berisik banget.

Trus kenapa telinga mesti dua? bayangkan kalau telinga cuma satu apakah kita mampu mendengar dengan jernih apakah informasi yang kita dapat bakalan utuh dan bisa di terima tanpa adanya distorsi , terkadang dengan dua telinga saja saya kalau mendengar masih terjadi noise atau gangguan contohnya saya di panggil istri di suruh mengambilkan alat masak saya mendengar tapi terkadang kurang jelas apalagi kalau saya hanya menggunakan satu telinga bakalan lebih tidak jelas lagi.

Jadi kenapa mulut itu satu dan telinga dua bisa di simpulkan bahwa di sesuaikan dengan kegunaan masing – masing sesaui dengan kebutuhanya, selain secara filosofinya kita sebagai manusia mesti lebih banyak mendengar daripada berbicara kenapa? karena dengan lebih banyak mendengar kita akan mendapatkan lebih banyak informasi dengan banyak informasi maka akan banyak hal yang kita dapatkan entah itu ilmu, kesempatan bisnis dan secara manusiawi kalau orang lain berbicara dan kita mendengarkan, orang lain akan bahagia tetapi bukan berarti kita tidak berbicara karena memang sudah sunnatullahnya mulut untuk berbicara. Dengan lebih banyak mendengar akan lebih banyak belajar di banding banyak berbicara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s