Gurita Cikeas

Semalem sesampainya di rumah  sambil tiduran saya melihat tv-one yang menghadirkan nara sumber Jero Wacik  dan pengarang buku George Junus Aditjondro  yang menulis buku gurita cikeas. Mr Jero Wacik merasa nama baiknya di cemarkan karena apa yang di tulis di buku tersebut tidak sesuai data dan fakta sedangkan George tetep kekeh bahwa itu betul dan ada sumber dari internet sampai – sampai Mr Jero Wacik bilang agar george minta maaf dan mengembalikan nama baiknya tetapi George tetap kekeh tidak akan meminta maaf.

Selanjutnya nara sumber berganti dengan Prof Tjipta Lesmana dosen saya di pasca moestopo beliau ini orang yang kritis tapi objektif menurut saya sampai – sampai setiap beliau ngajar kelas selalu full padahal masuknya sepulang kerja  “inget waktu di kelas beliau mengkritisi pemerintahan SBY bahwa SBY itu orangya jaim banget dan beliau benci kalau melihat SBY tampil klimis sekali di depan kamera yang di anggap tidak mencerminkan bagaimana rakyat indonesia yang kesulitan ekonomi seperti saat ini tetapi di lain sisi beliau bilang tetapi kalau saya jadi persiden belum tentu bisa alias bisa pusing” berlanjut nara sumber selanjutnya adalah george dan staff ahli kepresidenan di tambah satu lagi orang yang memberikan testimoni di buku gurita cikeas.

Saya lebih atensi ke mr Tjipta dan George, Mr Tjipta mengatakan bahwa buku yang di tulis George, secara ilmiah lemah sekali karena berbagai sumbernya kurang di tampilan beliau mengatakan bahwa laporan tersebut investigasi dan kurang bisa di pertanggungjwabkan secara ilmiah sampai beliau menantang apabila ada 5 profesor di kumpulkan dan suruh menilai dia bertaruh bahwa apa yang di katakannya benar . Tapi George menampik dengan mengatakan  demi melindungi sumber data karena itu interview langsung, maka itu tidak di cantumkan sumber referensinya.

Saya menilai keduanya ada betulnya tulisan tanpa referensi yang kuat memang akan kurang kredibel alias lebih banyak ke asumsi yang bisa di buat oleh siapa saja tetapi dengan referensi yang kuat kebenaran dari pada tulisan akan sangat bisa di pertanggung jawabkan di sini kapasitas penulis sangat menentukan bukan gelar DR, Prof, Phd ataupun gelar lainnya tetapi kemampuan dan kejujuran dari pada tulisan, tonggak tulisan ilmiah adalah KEJUJURAN yang di dukung dengan data dan fakta yang valid. Dan alibi dari George bisa di terima juga secara akal sehat jadi silahkan pakai hati nurani mana yang lebih tepat.

Ok untuk lebih jelasnya mengenai buku gurita ini, saya postingkan tulisan tersebut yang saya ambil dari sini

Membongkar  Gurita  Cikeas,
di  balik  skandal  Bank  Century

“apakah  penyertaan  modal  sementara  yang  berjumlah  Rp  6,7  triliun  itu  ada  yang  bocor  atau  tidak  sesuai  dengan  peruntukannya?    Bahkan  berkembang  pula  desas‐ desus,  rumor,  atau  tegasnya  fitnah,  yang  mengatakan  bahwa  sebagian  dana  itu  dirancang  untuk  dialirkan  ke  dana  kampanye  Partai  Demokrat  dan  Capres  SBY;  fitnah  yang  sungguh  kejam  dan  sangat  menyakitkan.

….   sejauh  mana  para  pengelola  Bank  Century  yang  melakukan  tindakan  pidana
diproses  secara  hukum,  termasuk  bagaimana  akhirnya  dana  penyertaan  modal
sementara  itu  dapat  kembali  ke  negara?”

Begitulah  sekelumit  pertanyaan  Presiden  Soesilo  Bambang Yudhoyono  (SBY)  dalam  pidatonya  hari  Senin  malam,  23  November  2009, menanggapi  rekomendasi  Tim  8   yang  telah  dibentuk  oleh  Presiden sendiri,  untuk  mengatasi  krisis  kepercayaan  yang  meledak  di  tanah  air, setelah  dua  orang  pimpinan  Komisi  Pemberantasan  Korupsi  (KPK)  –  Bibit S. Ryanto  dan  Chandra  M.  Hamzah  –  ditetapkan  sebagai  tersangka  kasus  pencekalan  dan  penyalahgunaan  wewenang,  hari  Selasa,  15  September,  dan  ditahan  oleh  Mabes  Polri,  hari  Kamis,  29  Oktober  2009.

Barangkali,  tanpa  disadari  oleh  SBY  sendiri,  pernyataannya  yang begitu  defensif  dalam  menangkal  adanya  kaitan  antara  konflik  KPK  versus Polri  dengan  skandal  Bank  Century,  bagaikan  membuka  kotak  Pandora yang  sebelumnya  agak  tertutup  oleh  drama  yang  dalam  bahasa  awam menjadi  populer  dengan  julukan  drama  cicak  melawan  buaya.  Memang, drama  itu,  yang  begitu  menyedot  perhatian  publik  kepada  tokoh  Anggodo Widjojo,  yang  dijuluki  “calon  Kapolri”  atau  “Kapolri  baru”,  cukup  sukses mengalihkan  perhatian  publik  dari  skandal  Bank  Century,  bank  gagal  yang mendapat  suntikan  dana  sebesar   Rp  6,7  trilyun  dari  Lembaga  Penjamin Simpanan  (LPS),  jauh  melebihi  Rp  1,3  trilyun  yang  disetujui  DPR‐RI.

Selain  merupakan  tabir  asap  alias  pengalih  isu,  penahanan  Bibit
Samad  Rianto  dan    Chandra  M.  Hamzah  oleh  Mabes  Polri  dapat
ditafsirkan  sebagai  usaha  mencegah  KPK  membongkar  skandal  Bank
Century  itu,  bekerjasama  dengan  Badan  Pemeriksa  Keuangan  (BPK).
Soalnya,  investigasi  kasus  Bank  Century  itu  sudah  didorong  oleh  Bibit
Samad  Riyanto,  yang  waktu  itu  masih  aktif  sebagai  Wakil  Ketua  Bidang
Investigasi  KPK  (Batam  Pos,  31  Agust  2009).  Sedangkan  BPK  juga  sedang
meneliti  pengikutsertaan  dana  publik  di  bank  itu,  atas  permintaan  DPR‐RI
pra‐Pemilu  2009.

Dari  berbagai  pemberitaan  di  media  massa  dan  internet,  nama  dua
orang  nasabah  terbesar  Bank  Century  telah  muncul  ke  permukaan,  yakni
Hartati  Mudaya,  pemimpin  kelompok  CCM  (Central  Cipta  Mudaya)  dan
Boedi  Sampoerna,  salah  seorang  penerus  keluarga  Sampoerna,  yang
menyimpan  trilyunan  rupiah  di  bank  itu  sejak  1998.  Sebelum  Bank  Century
diambilalih  oleh  LPS,  Boedi  Sampoerna,  seorang  cucu  pendiri  pabrik  rokok
PT  HM  Sampoerna,  Liem  Seng  Thee,  masih  memiliki  simpanan  sebesar  Rp
Rp  1.895  milyar  di  bulan  November  2008,  sedangkan  simpanan  Hartati
Murdaya   sekitar  Rp  321  milyar.  Keduanya  sama‐sama  penyumbang
logistik  SBY  dalam  Pemilu   lalu.  Beberapa  depositan  kelas  kakap  lainnya
adalah  PTPN  Jambi,  Jamsostek,  dan  PT  Sinar  Mas.  Boedi  Sampoerna
sendiri,  masih  sempat  menyelamatkan  sebagian  depositonya  senilai  US$  18
juta,  berkat  bantuan  surat‐surat  rekomendasi  Kepala  Badan  Reserse  dan
Kriminal  (Bareskrim)  Mabes  Polri  waktu  itu,  Komjen  (Pol)  Susno  Duadji,
tanggal  7  dan  17  April  2009  (Rusly  2009:  48;  Haque  2009;  Inilah.com,  25
Febr.  2009;  Antara  News,  10  Ag.  2009;  Vivanews.com,  14  Sept.  2009;  Forum
Keadilan,    29  Nov.  2009:  14).

(CANTUMKAN)

SURAT  REKOMENDASI  BARESKRIM  MABES  POLRI,

KOMJEN  (POL)  SUSNO  DUADJI,  TERTANGGAL  7  DAN  17  APRIL  2009

BANTUAN  GRUP  SAMPOERNA  UNTUK  HARIAN  JURNAS

Apa  relevansi  informasi  ini  dengan  keluarga  Cikeas?  Boedi

Sampoerna  ditengarai  menjadi  “salah  seorang  penyokong  SBY,  termasuk  dengan  menerbitkan  sebuah  koran”  (Rusly  2009:  48).  Ada  juga  yang
mengatakan”  Sampoerna  sejak  beberapa  tahun  lalu  mendanai  penerbitan  salah  satu  koran  nasional  (Jurnas/Jurnal  Nasional)  yang  menjadi  corong  politik  Partai  SBY”  (Haque  2009).

Dugaan  itu  tidak  100%  salah,  tapi  kurang  akurat.  Untuk  itu,  kita

harus  mengenal  figur‐figur  keluarga  Sampoerna  yang  memutar  roda

ekonomi  keluarga  itu,  setelah  penjualan  97%  saham  PT  HM  Sampoerna

kepada  maskapai  transnasional  AS,  Altria  Group,  pemilik  pabrik  rokok  AS,
Philip  Morris,  di  tahun  2005,  seharga  sekitar  US$  2  milyar  atau  Rp  18,5
trilyun.  Liem  Seng  Tee,  yang  mendirikan  pabrik  rokok  itu  di  tahun  1963
bersama  istrinya,  Tjiang  Nio,  mewariskan  perusahaan  itu  kepada  anaknya,
Aga  Sampoerna  (Liem  Swie  Ling),  yang  lahir  di  Surabaya  tahun  1915.  Aga
Sampoerna  kemudian  menyerahkan  perusahaan  itu  kepada  dua  orang
anaknya,  Boedi  Sampoerna,  yang  lahir  di  Surabaya,  tahun  1937,  serta
adiknya,  Putera  Sampoerna,  yang  lahir  di  Amsterdam,  13  Oktober  1947
(PDBI  1997:  A‐789  –  A‐796;  Warta  Ekonomi,  18‐31  Mei  2009:  43,  49).

Sesudah  menjual  pabrik  rokoknya  kepada  Philip  Morris,  Putera

menyerahkan  pengelolaan  perusahaan  pada  anak  bungsunya,  Michael

Joseph  Sampoerna,  yang  telah  mengembangkan  holding  company  keluarga  yang  baru,  Sampoerna  Strategic,  ke  berbagai  bidang  dan  negara.  Misalnya,  membeli  20%  saham  perusahaan  asuransi  Israel,  Harel  Investment  Ltd  dan  saham  dalam  kasino  di  London,  dan  berencana  membuka  sejuta  hektar  kelapa  sawit  di  Sulawesi,  berkongsi  dengan  kelompok  Bosowa  milik  Aksa  Mahmud,  ipar  Jusuf  Kalla  (Investor,  21  Ag.‐3  Sept.  2002:  19;  Prospektif,  1  April  2005:  48;  Globe  Asia,  Ag.  2008:  52‐53,  Ag.  2009:  100‐101).

Namun  ada  seorang  kerabat  Boedi  dan  Putera  Sampoerna,  yang

tidak  pernah  memakai  nama  keluarga  mereka.  Namanya  Sunaryo,  seorang

kolektor  lukisan  yang  kaya  raya,  yang  mengurusi  pabrik  kertas  Esa  Kertas
milik  keluarga  Sampoerna  di  Singapura  yang  hampir  bangkrut,  dan
sedang  bermasalah  dengan  Bank  Danamon.  Menurut  sumber‐sumber
penulis,  sejak  pertama  terbit  tahun  2006,  Sunaryo  mengalirkan  dana  Grup
Sampoerna  ke   PT  Media  Nusa  Perdana,  penerbit  harian  Jurnal  Nasional    di
Jakarta.

Perusahaan  itu  kini  telah  berkembang  menjadi  kelompok  media  cetak  yang  cukup  besar,  dengan  harian  Jurnal  Bogor,  harian  Jurnal  Bogor,  majalah  bulanan  Arti,  dan  majalah  dwimingguan  Eksplo.  Boleh  jadi,  dwi‐ mingguan  ini  merupakan  sumber  penghasilan  utama  perusahaan
penerbitan  ini,  karena  penuh  iklan  dari  maskapai‐maskapai  migas  dan  alat‐alat  berat  penunjang  eksplorasi  migas  dan  mineral.

Secara  tidak  langsung,  dwi‐mingguan  Explo   dapat  dijadikan

indikator,  sikap  Partai  Demokrat  –  dan  barangkali  juga,  Ketua  Dewan

Pembinanya  –  terhadap  kebijakan‐kebijakan  negara  di  bidang  ESDM.

Misalnya  dalam  pendirian  pembangkit  listrik  tenaga  nuklir  (PLTN),  yang  tampaknya  sangat  dianjurkan  oleh  Redaksi  Explo  (lihat  tulisan  Noor
Cholis,  “PLTN  Muria  dan  Hantu  Chernobyl”,  dalam  Explo,  16‐31  Oktober  2008, hal.  106,  serta  berita  tentang  PLTN  Iran  yang  siap  beroperasi,
September  lalu  dalam  Explo,  1‐15  April  2009,  hal.  79).

Pemimpin  Umum  harian  Jurnas   berturut‐turut  dipegang  oleh  Asto
Subroto  (2006‐2007),  Sonny  (hanya  beberapa  bulan),  dan  N.  Syamsuddin
Ch.  Haesy  (2007  sampai  sekarang).  Kedua  pemimpin  umum  pertama
bergelar  Doktor  dari  IPB,  dan  termasuk  pendiri  Brighton  Institute  bersama
SBY.

Selama  tiga  tahun  pertama,  ada  dua  orang  fungsionaris  PT  Media
Nusa  Perdana  yang  diangkat  oleh  kelompok  Sampoerna,  yakni  Ting
Ananta  Setiawan,  sebagai  Pemimpin  Perusahaan,  dan  Rainerius  Taufik

sebagai  Senior  Finance  Manager  atau  Manajer  Utama  Bisnis.  Dalam  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)  Besar  PT  Media  Nusa  Perdana,  yang
dikeluarkan  oleh  Dinas  Perindustrian  dan  Perdagangan  Provinsi  DKI
Jakartam  5  Maret  2007,  namanya  tercantum  sebagai  Direktur  merangkap  pemilik  dan  penanggungjawab.

Sementara  itu,  kesan  bahwa  perusahaan  media  ini  terkait  erat

dengan  Partai  Demokrat  tidak  dapat  dihindarkan,  dengan  duduknya

Ramadhan  Pohan,  Ketua  Bidang  Pusat  Informasi  BAPPILU  Partai

Demokrat  sebagai  Pemimpin  Redaksi  harian  Jurnal  Nasional  dan  majalah  Arti,   serta  Wakil  Ketua  Dewan  Redaksi  di  majalah  Eksplo.

Sebelum  menjabat  sebagai  Pemimpin  Redaksi  Jurnas,   Ramadhan
Pohon  merangkap  sebagai  Direktur  Opini  Publik  &  Studi  Partai  Politik
Blora  Center,  think  tank   Partai  Demokrat  yang  mengantar  SBY  ke  kursi
presidennya  yang  pertama.  Barangkali  ini  sebabnya,  kalangan  pengamat
politik  di  Jakarta  mencurigai  bahwa  dana  kelompok  Sampoerna  juga
mengalir  ke  Blora  Center.  Soalnya,  sebelum  Jurnas  terbit,  Blora  Center
menerbitkan  tabloid  dwi‐mingguan  Kabinet,   yang  menyoroti  kinerja
anggota‐anggota  Kabinet  Indonesia  Bersatu.  Sementara  itu,  Ramadhan
Pohan  baru  saja  terpilih  menjadi  anggota  DPR‐RI  dari  Fraksi  Demokrat,
mewakili  Dapil  VII  Jawa  Timur    (Jurnalnet.com,  25  Febr.  2005;  Fajar,  21  Juni  2005;   ramadhanpohan.com,  14  Okt.  2009).

Kembali  ke  kelompok  Jurnas  dan  hubungannya  dengan  Grup

Sampoerna,  di  tahun  2008,  Ting  Ananta  Setiawan  mengundurkan  diri  dari
jabatan  Pemimpin  Perusahaan,  yang  kini  dirangkap  oleh  Pemimpin
Umum,   N.  Syamsuddin  Haesy.  Namun  nama  Ananta  Setiawan  tetap
tercantum  sebagai  Pemimpin  Perusahaan,  sebagai  konsekuensi  dari  SIUP

PT  Media  Nusa  Perdana.  Mundurnya  Ananta  Setiawan  secara  de  facto

terjadi  seiring  dengan  mengecilnya  saham  Sampoerna  dalam  perusahaan  media  itu,  dan  meningkatnya  peranan  Gatot  Murdiantoro  Suwondo
sebagai  pengawas  keuangan  perusahaan  itu.  Isteri  Dirut  BNI  ini,
dikabarkan  masih  kerabat  Ny.  Ani  Yudhoyono  (McBeth  2007).

Berapa  besar  dana  yang  telah  disuntikkan  Grup  Sampoerna  ke

kelompok  Jurnas?  Menurut  SIUP  PT  Media  Nusa  Perdana  yang

diterbitkan  Dinas  Perindustrian  dan  Perdagangan  Provinsi  DKI  Jakarta,  5
Maret  2007,  nilai  modal  dan  kekayaan  bersih  perusahaan  itu  sebesar  Rp  3
milyar.  Namun  jumlah  itu,  hanya  cukup  untuk  sebulan  menerbitkan
harian  Jurnal  Nasional,  yang  biaya  cetak,  gaji,  dan  biaya‐biaya  lainnya
kurang  lebih  Rp  2  milyar  sebulan.  Berarti  biaya  penerbitan  tahun  pertama
(2006), sekitar  Rp  24  milyar.  Tahun  kedua  (2007),  turun  menjadi  sekitar  Rp
20 milyar,  setelah  koran  dan  majalah‐majalah  terbitan  PT  Media  Nusa
Perdana  mulai  menarik  langganan  dan  iklan.  Tahun  ketiga  (2008),  sekitar
Rp  18  milyar,  dan  tahun  keempat  (2009)  sekitar  Rp  15  milyar.

Berarti  kelompok  media  cetak  ini  telah  menyedot  modal  sekitar  Rp
90 milyar,  mengingat  Jurnal  Bogor   menyewa  kantor  sendiri  di  Bogor,  dan  punya  rencana  untuk  berdiri  sendiri,  dengan  perusahaan  penerbitan
sendiri.  Selain  biaya  cetak  yang  tinggi  untuk  seluruh  Grup  Jurnas,  pos  gaji  wartawan  kelompok  media  ini  tergolong  cukup  tinggi.  Gaji  pertama
wartawan  Jurnas  tahun  2006  mencapai  Rp  2,5  juta  sebulan,  tiga  kali  lipat
gaji  wartawan  baru  Jawa  Pos  Group.

Kecurigaan  masyarakat  bahwa  keluarga  Sampoerna  tidak  hanya

menanam  modal  di  kelompok  media  Jurnal  Nasional,  tapi  juga  di  simpul‐
simpul  kampanye  Partai  Demokrat  yang  lain,   yang   juga  disalurkan  lewat

Bank  Century,  bukan  tidak  berdasar.  Soalnya,  Laporan  Keuangan  PT  Bank  Century  Tbk  Untuk  Tahun    Yang  Berakhir  Pada  Tanggal‐Tanggal  30  Juni  2009  dan  2008  menunjukkan  bahwa  ada  penarikan  simpanan  fihak  ketiga
sebesar  Rp  5,7  trilyun.

Selain  itu,  Ringkasan  Eksekutif  Laporan  Hasil  Investigasi  BPK  atas  Kasus
PT  Bank  Century  Tbk   tertanggal  20  November  2009  menunjukkan  bahwa
Bank  Century  telah  mengalami  kerugian  karena  mengganti  deposito  milik
Boedi  Sampoerna  yang  dipinjamkan  atau  digelapkan  oleh  Robert  Tantular
dan  Dewi  Tantular   sebesar  US$  18  juta  –  atau  sekitar  Rp  150  milyar  ‐‐
dengan   dana  yang  berasal  dari  Penempatan  Modal  Sementara  LPS.

PEMANFAATAN  PSO  LKBN  ANTARA    UNTUK  BRAVO  MEDIA  CENTER:

Kemudian,  sudah  ada  preseden  bahwa  dana  publik  dialihkan  untuk
biaya  kampanye  Partai  Demokrat  dan  calon  presidennya.  Hal  ini  timbul,  di
mana  ada  perangkapan  jabatan  antara  kader  Partai  Demokrat,  khususnya
yang  duduk  di  dalam  berbagai  tim  sukses,  dengan  jabatan  komisaris  atau
fungsionaris  badan‐badan  usaha  milik  negara  (BUMN)  tertentu.  Misalnya
dalam  kasus  Rully  Ch.  Iswahyudi   yang  selain  menjadi  Direktur  Komersial
&  IT  Perum   LKBN  Antara,  juga  ikut  mengelola  Bravo  Media  Center.

Mantan  direktur  Blora  Center  dalam  Pemilu  2004  dan  mantan  Wakil
Pemimpin  Umum  Harian  Jurnal  Nasional   itu  masih  tercantum  namanya
sebagai  Staf  Khusus  Bappilu  Partai  Demokrat,  menurut  situs  resmi  Partai
Demokrat,  10  Juli  2009.  Juga,  sampai  dengan  1  April  lalu,  namanya  masih
tercantum  sebagai  Direktur  Media  Center  Barindo  (Barisan  Indonesia)
(Gatra,  1  April  2009:  17).  Padahal  Barindo,  yang  ditokohi  oleh  Akbar
Tanjung,  adalah  salah  satu  jejaring  militan  pendukung  SBY  (lihat  Lampiran

I).

Lalu,  adalah  kontribusi  finansial  Rully  bagi  kampanye  Capres  dan  Cawapres  SBY‐Boediono?  Ada.  Bersama  CEO  LKBN  Antara,  Dr.  Akhmad  Muchlis  Jusuf,  separuh  dari  dana  PSO  (Public  Service  Obligation)  LKBN
Antara  yang  berjumlah  Rp.  40,6  milyar  ke  Bravo  Media  Center,  salah  satu  tim  kampanye  SBY‐Boediono.

PSO  untuk  LKBN  Antara  itu  merupakan  bagian  dari  alokasi  PSO

untuk  empat  BUMN  –  PELNI,  PT  Kereta  Api  Indonesia  (KAI),  LKBN

Antara,  dan  PT  Pos  –  sebesar  Rp  1,7  trilyun  yang  disetujui  oleh  DPR‐RI,

akhir  2008.  Pengalihan  separuh  dana  PSO  LKBN  Antara  untuk  Bravo

Media  Center  ini  menimbulkan  ketegangan  di  dalam  kantor  berita  itu.

Barangkali,  karena  rasa  tanggungjawab  yang  besar,  serta  susahnya  mencari  pekerjaan,  tidak  ada  karyawan  LKBN  Antara  yang  keluar,  namun
informasi  ini  sudah  sempat  merembes  ke  luar.

Nah,  kalau  pengalihan  sebagian  uang  rakyat  untuk  ‘dana  siluman’
kampanye  SBY‐Boediono  –  karena  tidak  dilaporkan  ke  KPU  ‐‐,  bagaimana
dengan  uang  rakyat  yang  dititipkan  pada  Badan‐Badan  Usaha  Milik
Negara  yang  lain,  di  mana  pejabatnya  juga  menjadi  anggota  tim  sukses
SBY‐Boediono?  Baik  yang  terdaftar,  maupun  yang  tidak  terdaftar?

=  Bagaimana  dengan  dana  PSO  yang  dialokasikan  untuk  PT  KAI,  yang  komisarisnya,  Yahya  Ombara,  juga  menjadi  anggota  tim  sukses  SBY‐ Boediono,  sebelum  ditarik,  10  Juni  lalu?

=  Bagaimana  dengan  dana  PSO  yang  dialokasikan  untuk  PT  Pos,  yang  komisarisnya,  Andi  Arief,  menjadi  anggota  Jaringan  Nusantara?

=  Bagaimana  dengan  transparansi  dana  BUMN  lain,  yang  komisarisnya  juga  anggota  Jaringan  Nusantara,  seperti  Aam  Sapulete  (PTPN  VII,
Lampung),  Herry  Sebayang    (PTPN  III,  Sumut),  dan  Syahganda
Nainggolan  (PT  PELINDO,  yang  mengelola  pelabuhan  Tanjung  Priok,  termasuk  pelabuhan  peti  kemasnya)?

Pengalihan  dana  melalui  Bank  Century,  LKBN  Antara,  atau

korporasi‐korporasi  lain,  terdorong  oleh  gencarnya  usaha  SBY  serta  para
pendukungnya,  untuk  memastikan  pemilihannya  kembali  untuk  masa
jabatan  kepresidenan  yang  kedua  dan  terakhir,  sehingga  terbukti  jumlah
pemilih  Partai  Demokrat  telah  melonjak  hampir  tiga  kali  lipat  dari  7  %
dalam  Pemilu  legislatif  tahun  2004  menjadi  sekitar  20%  dalam  Pemilu
legislatif  2009.

YAYASAN‐YAYASAN  YANG  BERAFILIASI  KE  SBY:

Selain  melalui  lebih  dari  selusin  tim  kampanye  (lihat  Lampiran  1),  penggalangan  dukungan  politis  dan  ekonomis  bagi  SBY  dimotori  oleh
yayasan‐yayasan  yang  berafiliasi  ke  SBY  dan  ke  Ny.  Ani  Yudhoyono.
Selanjutnya,  yayasan‐yayasan  yang  berfungsi  sebagai  bagian  dari  strategi  public  relationship   keluarga  Yudhoyono,  ternyata  tidak  luput  dari  usaha  penggalangan  dana  bagi  perusahaan‐perusahaan  lama  dan  baru,  yang
kemungkinan  besar  juga  menyumbangkan  sebagian  keuntungannya  untuk  biaya  kampanye  Partai  Demokrat  dan  calon  presidennya.

Antara  tahun  2005‐2006,  telah  didirikan  dua  yayasan  yang  berafiliasi
ke  SBY,  yakni   Yayasan  Majelis  Dzikir  SBY  Nurussalam  yang  didirikan
tahun  2005  dan  berkantor  di  Tebet,  Jakarta  Selatan  ,  tapi  selalu
menyelenggarakan  kegiatan‐kegiatan  dzikirnya  di  Masjid  Baiturrahim  di
Istana  Negara;  serta  Yayasan  Kepedulian  Sosial  Puri  Cikeas,  disingkat
Yayasan  Puri  Cikeas,  yang  didirikan  tanggal  11  Maret  2006  di  kompleks
perumahan  Cikeas  Indah  (lihat  Lampiran  2:  Susunan  Pengurus  Yayasan
Puri  Cikeas).

Kedua  yayasan  itu  melibatkan  sejumlah  menteri  (ada  yang  sekarang
mantan  menteri,  seperti  ),  sejumlah  perwira  tinggi,  sejumlah  pengusaha,

serta  anggota  keluarga  besar  SBY.  Edhi  Baskoro  Yudhoyono,  putra  bungsu  SBY  dan  Ny.  Ani  Yudhoyono,  sebagai  salah  seorang  Sekretaris  Yayasan
Majelis  Dzikir  SBY  Nurussalam,  dan  Hartanto  Edhie  Wibowo,  adik  bungsu  Ny.  Ani  Yudhoyono  (lihat  Box  II:  Dinasti  Sarwo  Edhie  Wibowo)  sebagai
salah  seorang  bendahara.

(CANTUMKAN)

BOX  II:  DINASTI  SARWO  EDHIE  WIBOWO

Menjelang  Pemilu  2009,  yayasan  penopang  kekuasaan  SBY

bertambah  satu:  Yayasan  Kesetiakawanan  dan  Kepedulian  (KdK),  yang  dipimpin  oleh  Arwin  Rasyid.  Empat  orang  anggota  Dewan  Pembinanya  sudah  masuk  ke  dalam  Kabinet  Indonesia  Bersatu  (KIB)  Jilid  II,  yakni  Djoko  Suyanto,  Purnomo  Yusgiantoro,  Sutanto,  dan  MS  Hidayat  (lihat  Lampiran  3a:  Visi,  Misi,  dan  Struktur  Pengurus  YKDK).

Yayasan  ini  dikelola  oleh  orang‐orang  yang  punya  banyak

pengalaman  di  bidang  perbankan.  Ketua  Umumnya,  Arwin  Rasyid,

Presiden  Direktur  CIMB  Bank  Niaga,  sedangkan  Bendahara  Umumnya,
Dessy  Natalegawa.  Dessy  adalah  adik  kandung  Menlu  Marty  Natalegawa  yang  sudah  diproyeksikan  akan  diangkat  menjadi  Menlu  dalam  KIB  II
(Gatra,    28  Okt.  2009:  16).  Mereka  tidak  perlu  lagi  bingung  memikirkan
penggalangan  dana  (fund  raising  )  bagi  yayasan  ini,  yang  telah  mendapat
kucuran  dana  sebesar  US$  1  juta  dari  Djoko  Soegiarto  Tjandra,  pemilik
Bank  Bali  dan  buron  kelas  kakap  BLBI    (Vivanews,  2  Okt.  2009;  Mimbar
Politik,  7‐14  Okt.  2009:  10‐11).

Yayasan  Puri  Cikeas,  Yayasan  Majelis  Dzikir  SBY  Nurussalam,  dan  Yayasan  Kesetiakawanan  dan  Kepedulian  punya  beberapa  ciri  yang  sama.  Ketiga  yayasan  itu  tidak  dipimpin  oleh  SBY  sendiri,  tapi  oleh  orang‐orang  dari  inner  circle  nya.  Pola  operasinya  sama:  memadu  kedermawanan
dengan  mobilisasi  dukungan  politik  dan  ekonomi.  Sejumlah  perusahaan  pendukung  ketiga  yayasan  itu  bukannya  tidak  mengharapkan
keuntungan.  Padahal,  jangkauan  kedermawanan  ketiga  yayasan  itu
membutuhkan  dana  yang  sangat  besar.  Lagi  pula,  hasil  auditing  ketiga
yayasan  itu  oleh  auditor  publik  yang  betul‐betul  independen,  belum
pernah  dilaporkan  ke  parlemen  dan  ke  media  massa.

Soalnya,  ketiga  yayasan  itu  melibatkan  sejumlah  Menteri  dan  staf
harian  Presiden,  serta  menguasai  dana  milyaran  rupiah.  Yayasan  Majelis
Dzikir  SBY  Nurussalam  tadinya  melibatkan  tiga  orang  Menteri  (Hatta
Rajasa,  Sudi  Silalahi,  dan  M.  Maftuh  Basyuni,  yang  tadinya  Menteri
Agama)  sebagai  Pembina,  serta  Brigjen  Kurdi  Mustofa,  Sekretaris  Pribadi
Presiden  SBY,  sebagai  Pengawas.  Kegiatan  yayasan  ini  telah  menelan  dana
yang  sebagian  mungkin  berasal  dari  anggaran  negara.  Misalnya,  dana
untuk  kegiatan  zikir  dan  doa  di  Masjid  Baiturrahim  di  Kompleks  Istana
Negara  di  akhir  2007  dan  2008,  yang  diikuti  antara  3000  dan  4000  jemaah,
yang  selesai  berdoa,  diundang  makan  malam  di  Istana  Negara  (Kompas,  31
Des.  2007;  Tempo,  13  Jan.  2008:  34).

Biaya  makan  malam  ribuan  jemaah  zikir  itu  mungkin  dapat  diambil
dari  anggaran  rutin  kepresidenan  yang  telah  disetujui  oleh  DPR‐RI.  Tapi
bagaimana  dengan  biaya  ibadah  umroh  bagi  lima  rombongan  ulama   a    50
orang  yang  disponsori  oleh  yayasan  ini,  di  mana  setiap  orang  menelan
biaya  seribu  real  (Antara  News,  16  Sept.    2008;   Masayok  2008;  website  majelis
dzikir)?

Boleh  jadi,  selain  dari  uang  rakyat,  melalui   anggaran  kepresidenan,
pembiayaan  yayasan  ini  dibantu  oleh  kedua  orang  bendaharanya.  Selain
Hartanto,  ada  bendahara  lain,  yakni  Aziz  Mochdar,  mitra  bisnis  Bambang
Trihatmodjo  dan  adik  Muchsin  Mochdar,  ipar  mantan  Presiden  B.J.
Habibie.  Selain  itu,  Aziz  juga  mitra  Gunawan  Yusuf,  pemilik  Sugar  Group
Company  (SGC)  yang  sedang  berkonflik  dengan  Anthony  Salim  tentang
kepemilikan  sejumlah  perkebunan  tebu  di  Lampung  (Aditjondro  2003:  94;
Tempo,  13  Mei  2008;  Mahkamah,  15  April  2009:  28‐29;  Gatra,  1  April  2009:  68‐
69).

Dibandingkan  dengan  Yayasan  Majelis  Dzikir  SBY  Nurussalam,
Yayasan  Puri  Cikeas  melibatkan  lebih  banyak  pejabat,  purnawirawan

perwira  tinggi,  dan  pengusaha.  Ketua  Dewan  Pembinanya  adalah  Jero

Wacik,  Menteri  Pariwisata  dan  Kebudayaan,  pemilik  tiga  perusahaan  yang
bergerak  di  bidang  hotel,  biro  perjalanan,  bidang  interior,  dan  disain
tekstil,  yakni  PT  Griya  Batu  Bersinar,  PT  Pesona  Boga  Suara,  dan  PT  Putri
Ayu  (Sriwijaya  Post,  8  Sept.  2009;  Warta  Ekonomi,  16‐29  Nov.  2009:  49).

Selain  Menteri  tadi,  sejumlah  mantan  perwira  tinggi  terlibat  di

Yayasan  Puri  Cikeas.  Ketua  dan  anggota  Dewan  Penasehat  yayasan  ini  adalah  mantan  KSAD  Jenderal  (Purn.)  Subagyo  H.S.,  Komjen  (Pol)  Didi  Widayadi,  dan  Mayjen  TNI  Bambang  Sutedjo.  Sedangkan  Ketua  Umum  dan  Wakil  Ketua  Umum  Pengurus  adalah  Marsekal  Madya  (Purn.)  Suratto  Siswodihardjo,  mantan  Ketua  INKOPAU,  dan  mantan  Wakil  Ketua  MPR‐ RI  Letjen  (Purn.)  Agus  Widjojo.  Subagyo  HS  dan  Agus  Widjojo  tetangga  SBY  di  kompleks  Cikeas  Indah  itu  (Detiknews,  24  Sept.  2004).

Para  pebisnis  yang  namanya  tercantum  di  struktur  organisasi

yayasan  ini  adalah  Jero  Wacik,  yang  sudah  disebut  di  depan;  Sofyan  Basir,
Dirut  Bank  Rakyat  Indonesia  (BRI)  dan  mantan  Dirut  Bank  Bukopin;
Anton  Sukartono,  putra  Suratto  Siswodiharjo  yang  juga  Wakil  Bendahara
DPP  Partai  Demokrat  dan  CEO   PT  Bakrie  Building  Industries,  anak
perusahaan  Bakrie  &  Brothers;  Glen  Glenardi,  Direktur  Utama  Bukopin;
Sukamdani  Sahid  Gitosarjono,  pemimpin  dan  pemilik  Sahid  Group,  serta
anaknya,  Hariadi  Budi  Sukamdani;  Tanri  Abeng  dan  anaknya,  Emil
Abeng,  Presiden  PT  Walinusa  Energi  yang  bergerak  di  bidang
pertambangan  batubara  serta  pembangunan  pembangkit‐pembangkit
tenaga  listrik  dan  pipa‐pipa  gas  alam  (Aditjondro  2003:  24‐5;  Tempo,  13  Mei
2008, 2 Febr.  2009;  Antara,    12  April  2006;  Lampung  Post,  1  Juni  2006;
Sriwijaya  Post,  8  Sept.  2009;  Warta  Ekonomi,  16‐29  Nov.  2009:  49;  Bank
Bukopin  2002;  website  Yayasan  Puri  Cikeas;   website  Partai  Demokrat).

Jangan  lupa,  Ketua  Umum  yayasan  ini,  Suratto  Siswodihardjo,   juga
seorang  pebisnis,  setelah  berkarier  di  bidang  kemiliteran  dan  politik.  Lahir
di  Solo  tahun  1946,  lulusan  AKABRI  Udara  di  Yogyakarta    (1969)  dan
Sarjana  Sosial  Universitas  Jakarta  (1992)  menjabat  sebagai  Kasi  Sospol
Mabes  AU  (1990‐1992),  anggota  DPRD‐DKI  dari  Fraksi  ABRI  dan  Ketua
INKOPAU  (1998‐2001).  Tahun  1998,  Suratto  menjadi  komisaris  PT  Sweet
Indo  Lampung  dan  PT  Indo  Lampung  Perkasa  (1998‐2000)  yang  waktu  itu
masih  milik  Anthony  Salim;  anggota  Dewan  Audit  Bank  Bukopin  (  2006‐
2007) dan  komisaris  Bank  Bukopin  (2001‐2002);  komisaris  PT  Prosys
Engineering  International  (2005);  dan  komisaris  PT  Angkasa  Pura  II  (2006‐
2007) yang  mengelola  bandara‐bandara  di  Jakarta,  Medan,  Palembang,
Banda  Aceh,  dan  Pontianak  (Angkasa  Pura  II  2007:  3,  15;  Bank  Bukopin
2002, 2006;   Mahkamah,  15  April  2009:  28‐29).

Dengan  modal  yang  telah  terkumpul  dari  berbagai  usahanya,  Suratto
membeli  tanah  seluas  25  hektar  di  Desa  Cikeas,  Kecamatan  Gunung  Putri,
Kabupaten  Bogor,  waktu  masih  berharga  Rp.  5000  per  meter  persegi  tahun
1995. Tanah  itu  kemudian  dikapling‐kapling,  masing‐masing  seluas  seribu
meter  persegi,  dan  tahun  berikutnya  ditawarkan  kepada  sejumlah  perwira
tinggi  di  jajaran  Hankam  seharga  Rp  35  ribu  per  meter  persegi.  Sejumlah
jenderal  membelinya,  termasuk  SBY,  yang  langsung  membeli  empat

kapling,  yang  sekarang  sudah  bernilai  Rp  1,5  hingga  Rp  2  juta  per  meter  persegi.  Suratto  membangun  rumahnya  bersamaan  dan  berseberangan  dengan  SBY  tahun  1997.  Jadi  boleh  dikata,  Suratto  adalah  seorang
pengembang  yang  berhasil,  yang  berkepentingan  untuk  mempertahankan  SBY  menjadi  Presiden  untuk  periode  keduanya,  supaya  harga  tanah  di
kompleks  Cikeas  Indah  semakin  mahal  (Detiknews,  24  Sept.    2004;  Tempo,  21  Juni  2009:  28,  21  Juni  2009:  28;  Harian  Komentar,  27  Ag.  2007).

Boleh  jadi,  mereka  ikut  menyumbang  kegiatan  Yayasan  Puri  Cikeas,  yang  bergerak  dalam  penyelenggaraan  Sekolah  Alam  Cikeas,

penanggulangan  bencana  alam  di  DIY  dan  Jawa  Tengah,  warung  murah,
dan  berbagai  bentuk  bantuan  sosial,  terutama  buat  penduduk  pedesaan
sekitar  Cikeas.  Sedangkan  untuk  bantuan  pengobatan  gratis,  ada  klinik
keliling,  gagasan  Ny.  Ani  Yudhoyono  (Harian  Komentar,  27  Ag.  2007;  Radar  Bogor,  16  Ag.  2009).

Sejauh  tidak  menggunakan  uang  rakyat,  dan  murni  dibiayai  oleh  pengusaha  swasta,  tidak  ada  masalah.  Namun  karena  Sofyan  Basir,
Direktur  Utama  Bank  Rakyat  Indonesia  (BRI)  adalah  Wakil  Ketua  Dewan  Pembina  Yayasan  Puri  Cikeas,  keuangan  yayasan  ini  perlu  diaudit  dan  dilaporkan  ke  parlemen,  mengingat  BRI  merupakan  BUMN.

Secara  khusus,  para  nasabah  Bank  Bukopin  juga  berkepentingan  mengetahui  laporan  keuangan  yayasan  ini,  sebab  dirut  Bank  Bukopin,
Glen  Glenardi,  adalah  ketua  Badan  Pengawas  yayasan  ini.  Padahal  ketua  umum  yayasan  ini,  Suratto  Siswodiharjo,  pernah  menjadi  Komisaris  (2001‐ 2002), kemudian  anggota  Tim  Audit  Bank  Bukopin  (2006‐2007).

Walaupun  Bukopin  itu  sendiri  sudah  badan  usaha  swasta,  pemegang
sahamnya  termasuk  koperasi‐koperasi  pegawai  negeri  sipil  (PNS),  polisi,
dan  tentara.  Suratto  Siswodiharjo  sendiri,  masuk  ke  lingkungan  Bukopin,
karena  ia  pernah  menjabat  sebagai  Ketua  Induk  Koperasi  Angkatan  Udara
(INKOPAU).  Dengan  demikian  dapat  dikatakan,  Bukopin  mengelola
sejumlah  uang  rakyat  yang  telah  dibayarkan  sebagai  gaji  pegawai  negeri
sipil,  polisi,  dan  tentara.

KAITAN  YAYASAN‐YAYASAN  TERSEBUT  DI  ATAS  DENGAN  BISNIS  KELUARGA  CIKEAS:

Namun  yang  paling  penting,  keuangan  ketiga  yayasan  itu  perlu

diaudit  dan  dilaporkan  ke  parlemen  dan  media,  karena  dua  orang  anggota
keluarga  besar  SBY  dan  Ny.  Ani  Yudhoyono,  yakni  Hartanto  Edhi
Wibowo,  adik  bungsu  Ny.  Ani  Yudhoyono  dan  Edhi  Baskoro  Yudhoyono,
putra  bungsu  SBY  dan  Ny.  Ani  Yudhoyono,  yang  sudah  terjun  dalam
bisnis  keluarga  Cikeas,  memegang  jabatan‐jabatan  strategis  di  Yayasan
Majelis  Dzikir  SBY  Nurussalam,  masing‐masing  sebagai  bendahara  dan
sekretaris.

Menariknya,  Hartanto  Edhie  Wibowo,  punya  ikatan  bisnis  dengan
adik  dari  M.  Hatta  Rajasa,  Pembina  Yayasan  Majelis  Dzikir  SBY
Nurussalam,  melalui  PT  Power  Telecom  (Powertel).  Hartanto  adalah
Komisaris  Utama  perusahaan  itu,  sementara  adik  Hatta  Rajasa,  Achmad
Hafisz  Tohir,  salah  seorang  direkturnya,  pakar  telematika  Roy  Suryo
Notodiprojo  komisaris  independen,  sedangkan  Dicky  Tjokrosaputro,  salah
seorang  pewaris  Batik  Keris,  direktur  utama  PT  Powertel.  Waktu  Hatta
Rajasa  jadi  Menteri  Perhubungan,  Powertel  mendapat  proyek  telekom
serat  optik  dari  PT  KAI  Tempo  Interaktif,  27  April  2009;  Warta  Ekonomi,  15‐28
Juni  2009:  56;  Indonesia  Monitor,  7  &  14  April  2009;  www.selular.co.id,  2  Juli
2008;  www.jakartapress.com,  4  Agustus  2008).

(CANTUMKAN)

FOTO  DICKY  TJOKROSAPUTRO,
DIREKTUR  UTAMA  PT  POWERTEL

PowerTel  yang  berkantor  pusat  di  Jakarta,  dengan  enam  kantor

cabang  di  Pulau  Jawa,  mendapat  berbagai  proyek  di  lingkungan  PT  Kereta
Api  Indonesia  (KAI)  sewaktu  Hatta  Rajasa  masih  menjabat  sebagai  Menteri  Perhubungan,  yakni  pembangunan  double  track   jurusan  Tanah  Abang‐
Serpong  bernilai  Rp  333  milyar;  pengadaan  16  unit  kereta  api  listrik  (KRL)
bekas  dari  Jepang  bernilai  Rp  44,5  milyar;   serta  pengadaan  jaringan  serat
optik  di  kawasan  Jakarta,  Bandung,  dan  Surabaya,  dengan  memanfaatkan
jaringan   rel  PT  KAI  (idem).

Ironisnya,  berbagai  proyek  itu  merupakan  rekomendasi  Proyek

Efisiensi  Perkeretaapian  (PEP)  PT  KAI,  yang  dibiayai  dengan  hutang  US$  85 juta  dari  Bank  Dunia.  Rekomendasi  itu  ditindaklanjuti  dengan  hutang  41 milyar  Yen  dari  pemerintah  Jepang  melalui  JBIC  (Japan  Bank  for
International  Cooperation)  untuk  pembangunan  rel  double  track  dan
pembelian  gerbong‐gerbong  bekas  dari  Jepang,  serta  hutang  US$  194,88  juta  dari  pemerintah  RRT  untuk  pembangunan  rel  double  track   antara  Yogyakarta  dan  Kutoarjo  (Nikmah  &  Wijiyati  2008:  1,  13‐4).

Dengan  kata  lain,  perusahaan  kongsi  keluarga  Tjokrosaputro,  Hatta
Rajasa,  dan  Hartanto  Edhie  Wibowo  mengambil  keuntungan  dari
akumulasi  hutang  Republik  Indonesia  kepada  Bank  Dunia  serta
pemerintah  Jepang  dan  RRT,  sewaktu  Hatta  Rajasa  menjabat  sebagai
Menteri  Perhubungan.  Kalau  begitu,  apakah   SBY  –  siapapun  wakil
presidennya    –  dapat  menyangkal  bahwa  ia  menganut  pola  ekonomi  neo‐
liberalis,  yang  mendahulukan  kepentingan  modal  besar  ketimbang
kepentingan  rakyat?

Pencatatan  saham  PowerTel  dilakukan  18  September  2008,  dengan  PT  BNI  Securities  sebagai  penjamin.  Timbul  pertanyaan:  apakah  faktor  perkerabatan  antara  pelaku‐pelaku  bisnis  itu  dengan  keluarga  Cikeas,  ikut  mempermulus  hubungan  antara  PowerTel  dengan  BNI  Securities?

Soalnya,  Gatot  Mudiantoro  Suwondo,  yang  menjadi  Dirut  BNI  sejak  6

Februari  2008,  setelah  sebelumnya  menjadi  direktur  bank  syariah  Bank

Danamon,  masih  kerabat  Ny.  Ani  Yudhoyono,  dari  fihak  isterinya  (McBeth
2007;  Tribun  Batam,  7  Febr.  2008;  www.liputan6.com/ekbis/?id=15450,  6  Febr.
2006).

Ternyata,  ada  aspek  lain  di  balik  perkongsian  Dicky  Tjokrosaputro
dengan  keluarga  SBY  dan  Hatta  Rajasa,  yakni  mencari  perlindungan
terhadap  tekanan  Bank  Mandiri.  Soalnya,  melalui  PT  Hanson  International
Tbk  yang  bergerak  di  bidang  pertambangan  batubara,  tiga  bersaudara
Benny,  Teddy,  dan  Dicky  Tjokrosaputro,  masih  berhutang  Rp  152,5  milyar
kepada  Bank  Mandiri,  yang   hanya  bagian  kecil  dari  hutang  kelompok  PT
Suba  Indah  Tbk  sebesar  Rp.  1,28  trilyun  kepada  bank  itu.  Kata  Abdul
Rachman,  Direktur  Special  Asset  Management  Bank  Mandiri,  meskipun
salah  satu  debitur  Suba  Indah  ada  yang  terkait  dengan  keluarga  Cikeas,
Bank  Mandiri  tidak  akan  mundur  dalam  menagih  utang.  “Suba  Indah
harus  dikejar  lagi.  Utangnya  masih  besar,  masih  banyak.  Ya  tentu  kami
masih  tagih  terus.  Kami  akan  kejar  dengan  cara  apapun”,  ujar  Abdul
Rachman  (Warta  Ekonomi,  2‐15  Nov.  2009:  69‐70;  www.jakartapress.com,  4
Agustus  2008).

Kembali  ke  PT  Powertel,  boleh  jadi,  tidak  ada  hubungan  bisnis

khusus  antara  Gatot  Mudiantoro  Suwondo  dengan  Hartanto  Edhie

Wibowo.  Sementara  itu,  adik  bungsu  Ny.  Ani  Yudhoyono  itu  juga

dipercayai  memangku  berbagai  jabatan  penting  dalam  Partai  Demokrat,  sebagai  Ketua  Departemen  BUMN.

Sedangkan  putra  bungsu  SBY,  Edhie  Baskoro  Yudhoyono  yang  akrab
dipanggil  “Ibas”,  dipercaya  oleh  ayah  dan  pamannya,  Hadi  Utomo,  Ketua
Umum  DPP  Partai  Demokrat,  menjadi  Ketua  Departemen  Kaderisasi   DPP
Partai  Demokrat.  Ibas  juga  ikut  Center  for  Food,  Energy,  and  Water  Studies

(CFEWS),  lembaga,  yang  digagas  Heru  Lelono,  staf  khusus  Presiden  SBY,  yang  pernah  bikin  heboh  dengan  “Enerji  Biru”  dan  padi  Super  Toy  (Tempo  Interaktif,  3  Nov.    2008).

Ibas  juga  sudah  terjun  ke  dunia  bisnis,  khususnya  ke  produksi  kue  kering,  dengan  menjadi  Asisten  Direksi  PT  Gala  Pangan,  menurut  situs  kpu.go.id.  Untuk  mengetahui  riwayat  bagaimana  ia  mulai  terjun  ke  bisnis  itu,  bacalah  Box  I  berikut:

‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐

BOX  I:  KISAH  IBAS  DAN  BISNIS  KUE  KERINGNYA

EDHIE  Baskoro  Yudhoyono  baru  selesai  menempuh  pendidikan  diplomanya  di  Curtin

University  of  Technology,  Perth,  Western,  Australia,  26  Februari  2005,  ketika  keluarga  Cikeas  menggelar  rapat  keluarga  untuk  membahas  masa  depan  putra  bungsu  SBY  itu.  Materi
pembicaan  seputar  keinginan  Ibas  ‐‐  demikian  sapaan  lajang  kelahiran  Bandung,  24  November  1980 itu  ‐‐  untuk  menerapkan  dua  gelar  diploma  yang  diraihnya  selama  tujuh  tahun,  Bachelor  of  Commerce  Finance  dan  Electronic  Commerce,  ke  dunia  kerja.

Namun,  pembicaraan  yang  berlangsung  serius  tapi  santai  itu  menemui  jalan  buntu.  Posisi  SBY
sebagai  presiden  membuat  mereka  kesulitan  mencari  kata  temu  untuk  menentukan  bisnis  apa
yang  cocok  untuk  Ibas.  SBY  dan  anak‐istrinya  tentu  tidakbisa  sembarangan  melakukan  bisnis.
“SBY  sangat  memahami  hal  itu,”  ujar  sumber  di  lingkungan  keluarga  Cikeas  kepada  Indonesia
Monitor,  pekan  lalu.

Alhasil,  obrolan  keluarga  yang  diselingi  hidangan  singkong  goreng,  jajanan  pasar,  dan  teh  manis  itu  pun  tidak  menghasilkan  putusan  apapun.  Sebagai  kepala  keluarga,  SBY  berusaha  membesarkan  hati  putra  kesayangannya  itu.  “Nggak  usah  buru‐buru.  Insya  Allah,  nanti  pasti  akan  ada  jalan,”  ujar  SBY,  seperti  diungkapkan  sumber.

Hingga  suatu  hari,  masih  menurut  sumber,  kegalauan  keluarga  Cikeas  itu  sampai  ke  telinga

seorang  konglomerat  pemilik  usaha  food  manufacture,  salah  satu  produknya  adalah  kopi  bubuk
kemasan  merek  terkenal.  Selama  ini,  pengusaha  keturunan  itu  sudah  kenal  dekat  dengan
keluarga  Cikeas.  “Dia  menawarkan  diri  untuk  mendidik  Ibas  berbisnis,”  ungkapnya.  Ibas  dan
‘suhu  bisnisnya’  sepakat  memproduksi  biskuit  dengan  merek  dagang  Bisco  di  bawah  bendera

PT  Gala  Pangan.  Setelah  itu,  mereka  mencari  lokasi  pabrik.  Yang  dipilih  sebagai  basis  usahanya  adalah  kawasan  industri  Jababeka  2,  Cikarang,  Bekasi,  Jawa  Barat,  sekitar  35  km  arah  timur  Jakarta,  tepatnya  di  Jalan  Industri  IV  Blok  PP‐3.

Menurut  sumber,  lokasi  PT  Gala  Pangan  berada  di  bagian  belakang  kawasan  industri  Jababeka.
Jalanan  masuk  ke  lokasi  dulunya  rusak  parah.  “Namun,  setelah  tahu  di  situ  dibangun  pabrik
milik  Ibas,  pihak  pengelola  Jababeka  langsung  meng‐hotmix  jalan  menuju  kawasan  tersebut,”
tuturnya.  Tak  hanya  aspal  hotmix.  Sesuai  kebutuhan,  pabrik  dengan  omzet  1‐2,5  juta  dolar  AS
itu  membutuhkan  gas  LPG  dalam  jumlah  banyak  untuk  mengaktifkan  pengovenan.  Saat  itu,
pipa  gas  LPG  belum  masuk  kawasan  itu.  “Tak  selang  lama,  pipa  gas  dibangun  masuk  ke

kawasan  tersebut,”  ujarnya.

Kini,  PT  Gala  Pangan  sudah  berproduksi.  Dengan  memperkerjakan  karyawan  sebanyak  150

orang,  biskuit  produk  Gala  Pangan  dilempar  ke  pasar  ekspor,  meliputi  pasar‐pasar  utama  di

Amerika  Utara,  Amerika  Selatan,  Eropa  Barat,  Eropa  Timur,  Asia  Timur,  Asia  Tenggara,  Afrika,  dan  Oceania.  Ketika  Indonesia  Monitor  berkunjung  ke  pabrik  tersebut,  Jumat  (12/6)  pagi,  suasana  masih  terlihat  sepi.  Lokasi  PT  Gala  Pangan  cukup  mewah  dan  strategis.  Dibanding  pabrik‐
pabrik  lain  di  kawasan  tersebut,  Gala  Pangan  tampak  istimewa.

Pagarnya  bagus,  halamannya  luas,  dan  bangunan  gedungnya  terlihat  rapi.  Terletak  di  sebuah  pertigaan  Jalan  Industri  Selatan  IV  dan  Jalan  Industri  Selatan  V,  pabrik  Gala  Pangan  terbagi  dalam  tiga  bagian  utama,  yakni  di  bagian  depan  untuk  kantor,  bagian  sisi  kiri  dan  kanan  untuk  produksi  dan  gudang.  Halaman  parker  cukup  luas.  Namun,  yang  paling  istimewa  adalah  saat  pabrik  tersebut  akan  dibangun.  “Peletakan  batu  pertama  oleh  Pak  SBY,”  ujar  seorang  sekuriti  PT  Gala  Pangan  kepada  Indonesia  Monitor.  Dia  menuturkan,  pabrik  kue  tersebut  memang  milik  Ibas.  Pada  awal‐awal  produksi,  Ibas  sering  datang  ke  pabrik  tersebut.

Tapi,  menurut  dia,  akhir‐akhir  ini  Ibas  jarang  berkunjung.  “Pak  Ibas  sudah  lama  tidak  ke  sini.
Sejak  maju  sebagai  caleg,  dia  jarang  ke  sini,  mungkin  sibuk,”  ujarnya.  Dalam  ingatannya,  Ibas
terakhir  datang  ke  pabriknya  sekitar  lebaran  haji  tahun  lalu.  “Itu  pun  hanya  sebentar,”
imbuhnya.  Menurut  sekuriti  yang  namanya  dirahasiakan,  ia  tidak  tahu  mengapa  Ibas  jarang
berkunjung  ke  pabrik  miliknya.  “Sepengetahuan  saya,  Pak  Ibas  masih  menjadi  komisaris  di
sini.  Sebab  dulu  sebelum  maju  jadi  caleg,  dia  sering  datang  ke  sini,  sekarang  saja  yang  agak
jarang,”  lanjutnya.

Keterlibatan  Ibas  dalam  bisnis  biskuit  secara  implisit  dibenarkah  oleh  Staf  Khusus  Ibu  Negara
Ani  Yudhoyono,  Nurhayati  Ali  Assegaf.  Awalnya,  Wasekjen  Partai  Demokrat  itu  tidak  mau
mengaku  soal  bisnis  Ibas.  “Saya  nggak  tahu,  jujur  saya  nggak  tahu,”  ujar  Nurhayati  kepada

Indonesia  Monitor,  Kamis  (11/6).

Setelah  didesak,  akhirnya  ia  mengakui,  meski  tidak  yakin.  “Jujur  saya  nggak  tahu  kalau  Mas
Ibas    punya  pabrik  itu.  Saya  memang  pernah  dengar  Mas  Ibas,  kalau  nggak  salah,  berbinis  kue
kering.  Itu  kalau  nggak  salah  ya.  Tapi,  pastinya  saya  nggak  tahu  bisnis  apa.  Yang  saya  tahu,
Mas  Ibas  di  politik,”  paparnya.  Namun,  kalau  pun  benar  berbisnis,  menurut  Nurhayati,  tidak
ada  salahnya,  karena  bisnis  yang  digeluti  adalah  di  sektor  swasta  dan  tidak  terlibat  kerjasama
dengan  perusahaan  BUMN  maupun  BUMD.  “Apa  salahnya  anak  presiden  berbisnis,”

gugatnya.

Argumen  Nurhayati  didukung  oleh  Sekjen  DPP  Partai  Demokrat  Marzuki  Alie.  Menurutnya,
yang  dimaksud  larangan  berbisnis,  seperti  yang  pernah  dilontarkan  SBY,  adalah  berbisnis
dengan  mengambil  dana  APBN.  “Itu  konkretnya.  Kalau  ada  anak  pejabat  berbisnis,  punya
pabrik,  punya  industri  yang  tidak  ada  kaitannya  dengan  pemerintah,  tidak  ada  kaitannya
dengan  APBN,  ya  boleh‐boleh  saja  kan,”  ujar  Marzuki  Alie  kepada  Indonesia  Monitor,  Selasa
(9/6).

sumber:  Sri  Widodo,  Moh  Anshari

http://www.indonesia‐monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=view&id=
2473&Itemid=33

‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐

YAYASAN‐YAYASAN  YANG  BERAFILIASI  KE  NY.  ANI  YUDHOYONO:

Bukan  hanya  SBY,  melainkan  isterinya,  Ny.  Ani  Yudhoyono,  yang
aktif  membina  beberapa  yayasan.  Yayasan‐yayasan  ini  diketuai  oleh
beberapa  orang  isteri  Menteri  dan  pejabat  kenegaraan  yang  lain,  yakni
Yayasan  Mutu  Manikam  Nusantara,  yang  diketuai  Ny.  Herawati
Wirayuda  (isteri  Menlu  waktu  itu);  Yayasan  Batik  Indonesia,  yang  diketuai  oleh  Yultin  Ginanjar  Kartasasmita  (isteri  Ketua  DPD  Ginanjar
Kartasasmita),  dan  Yayasan  Sulam  Indonesia,  yang  diketuai  oleh  Ny.
Triesna  Wacik,  isteri  Jero  Wacik,  Menteri  Kebudayaan  dan  Pariwisata,
merangkap  Ketua  Dewan  Pembina  Yayasan  Puri  Cikeas.

Di  antara  ketiga  yayasan  itu  yang  paling  kontroversial  adalah

Yayasan  Mutu  Manikam  Nusantara.  Bukan  karena  diketuai  oleh  isteri
Menlu  waktu  itu,  tapi  karena  jabatan  Bendaharanya  dipegang  oleh
Artalyta  Suryani,  yang  lebih  akrab  dengan  panggilan  “Ayin”.  Kedekatan
Ayin  –  yang  tertangkap  tangan  menyogok  jaksa  Urip  Tri  Gunawan  ‐‐
dengan  Ani,  mengurangi  ketegasan  KPK  dalam  membongkar  seluruh
jejaring  korupsi  di  belakang  sang  ‘markus’  (makelar  kasus),  khususnya
Syamsul  Nursalim,  boss  Gajah  Tunggal,  yang  terlibat  dalam  skandal  BLBI  yang  masih  menyisakan  kerugian  Rp  4,2  trilyun  bagi  Negara.  Ironisnya,
Ny.  Ani  Yudhoyono  ‐lah  yang  meresmikan  Alun‐Alun  Indonesia  milik
Syamsul  Nursalim,  tanggal  29  Oktober  2007  (lihat  Lampiran  4:  Kemilau
Persengkongkolan  di  Mutu  Manikam).

Yayasan  kedua  yang  ikut  didukung  oleh  Ny.  Ani  Yudhoyono  adalah  Yayasan  Batik  Indonesia  yang  diketuai  oleh  Ny.  Yultin  Ginanjar
Kartasasmita.  Dalam  berbagai  pameran  di  dalam  dan  luar  negeri  yang  (ikut)  diselenggarakan  oleh  yayasan  ini,  telah  menonjol  produk
perusahaan  baru  bermerek  Allure.  Perusahaan  baru  itu  segera

mengundang  perhatian  karena  dua  hal.  Pertama,  lebih  dari  selusin  gerai  perusahaan  itu  telah  dibuka  di  Indonesia,  Singapura  dan  Malaysia,
sementara  beberapa  gerai  sedang  dirintis  di  London  dan  Moskow.  Kedua,  batik  Allure  telah  mengangkat  menantu  SBY  yang  pernah  dinobatkan
menjadi  duta  batik  Indonesia  (Annisa  Pohan)  dan  anaknya  (Aira
Yudhoyono)  sebagai  ikon  perusahaan  itu.

FOTO‐FOTO  AIRA  YUDHOYONO  SEBAGAI  IKON  ALLURE  KIDS  &
DALAM  GENDONGAN  IBUNYA,  ANNISA  POHAN

(CANTUMKAN)

Adanya  potensi  konflik  kepentingan  antara  Ny.  Ani  Yudhoyono
sebagai  pembina  yayasan  itu,  dan  perusahaan  batik  baru  yang  telah
mengorbitkan  anak  dan  cucunya  sebagai  ikon,  belum  banyak  disorot
orang.  Termasuk  ketika   koleksi  batik  Ny.  Ani  Yudhoyono  dan  Ann
Durham,  ibunda  Presiden  AS,  Barack  Husein  Obama  di  Alun‐Alun
Indonesia  di  Grand  Indonesia  Shopping  Town,  17  November  yang  lalu.
Publik  tampaknya  juga  tidak  tahu,  bahwa  gedung  itu  milik  Gajah  Tunggal,
salah  satu  konglomerat  yang  belum  membereskan  hutangnya  pada
Negara,  dalam  kerangka  BLBI  (lihat  Lampiran  5:  Allure  meluncur  di  Alur
Yayasan  Batik  Indonesia).

FOTO‐FOTO  ARTHALYTA  DAN  ANI  YUDHOYONO,

ANI  YUDHOYONO  MERESMIKAN  ALUN‐ALUN  INDONESIA

&  SBY  DAN  ISTERINYA  MENGHADIRI  PERNIKAHAN  ANAK
SYAMSUL  NURSALIM

Yayasan  ketiga  yang  didukung  oleh  Ny.  Ani  Yudhoyono  adalah

Yayasan  Sulam   Indonesia,  yang  diketuai  Ny.  Triesna  Wacik,  isteri  Menteri  Kebudayaan  &  Pariwisata,  Jero  Wacik.  Di  sini  ada  juga  potensi  konflik
kepentingan  antara  keluarga  Jero  Wacik  dengan  yayasan  itu,  dan  antara
keluarga  Wacik  dengan  keluarga  Cikeas.  Soalnya,  salah  satu  perusahaan
milik  Menbudpar  yang  juga  Ketua  Dewan  Pembina  Yayasan  Puri  Cikeas,
PT  Puri  Ayu  yang  berkantor  di  Bali  dan  Jakarta,  bergerak  di  bidang  disain  tekstil.   Selain  itu,  kita  juga  masih  ingat  bahwa  Jero  Wacik  adalah  Ketua
Dewan  Pembina  Yayasan  Puri  Cikeas.

FOTO  PASANGAN  JERO  &  TRIESNA  WACIK

Para  pengusaha  yang  bergerak  di  bidang  produksi  dan  pemasaran
mutu  manikam,  batik,  dan  sulaman,  dapat  ikut  menikmati  promosi  yang
dibayar  dari  uang  rakyat,  dengan  berlindung  di  bawah  ketiga  payung
yayasan  yang  berafiliasi  ke  Ny.  Ani  Yudhoyono  ini.  Namun  yang  paling
menimbulkan  tanda  tanya  bagi  tokoh‐tokoh  masyarakat  adalah  kedekatan
Artalyta  Suryani  (“Ayin”)  dengan  Ani  Yudhoyono,  berkat  posisi  Artalyta
sebagai  Bendahara  Yayasan  Mutu  Manikam  Nusantara.  Soalnya,  diduga
berkat  kedekatan  antara   Ayin  dan  Ani,  salah  seorang  taipan  besar
pengemplang  dana  BLBI,  yakni  Syamsul  Nursalim,  dapat  lolos  dari  jerat
hukum,  seperti  di  era  Gus  Dur  maupun  Megawati  Soekarnoputri  (lihat
Lampiran  4).

Peranan  yayasan‐yayasan  yang  berafiliasi  ke  SBY  dan  Ny.  Ani

Yudhoyono  dalam  memobilisasi  dukungan  politik  dan  ekonomi  untuk

pemilihan  kembali  SBY  sebagai  Presiden  untuk  kedua  dan  terakhir

kalinya,  membuka  jalan  bagi  berbagai  jenis  pelanggaran  hukum  yang

dilakukan  oleh  para  pendukungnya.  Soalnya,  duplikasi  anggota  pengurus
yayasan‐yayasan  itu  dengan  berbagai  tim  sukses  yang  tidak  secara  resmi
terdaftar   personalia  maupun  sumber‐sumber  pembiayaannya  (lihat
Lampiran  1),  melancarkan  jalan  bagi  penyaluran  sumbangan  bagi
kampanye  Pemilu  legislatif  Partai  Demokrat  dan  Pilpres  SBY‐Boediono  ,
melampaui  batas‐batas  yang  diperkenankan  oleh  Pasal  131  dari  UU  No.
10/2008,  yakni  Rp  satu  milyar  rupiah  untuk  perorangan)  dan  lima  milyar
rupiah  untuk  kelompok,  perusahaan  dan  badan  usaha  non‐pemerintah.
Maklumlah,  pelanggaran  terhadap  Pasal  131,  yang  diatur  dalam  Pasal  276,
diancam  pidana  penjara  antara  enam   sampai  24  bulan,  serta  denda  antara
satu  sampai  lima  milyar  rupiah.

Kecurigaan  itu  sangat  beralasan,  apabila  keuangan  yayasan‐yayasan
itu  tidak  di‐audit  oleh  auditor  yang  independen.  Potensi  konflik
kepentingan  antara  keuangan  publik  yang  dikelola  oleh  pemerintah,  dan

keuangan  yayasan‐yayasan  itu,  barangkali  paling  besar  pada  Yayasan

Kesetiakawanan  dan  Kepedulian.  Soalnya,  tiga  orang  Menteri  dan  seorang
pejabat  setingkat  Menteri  dalam  Kabinet  Indonesia  Bersatu  II  merangkap
sebagai  anggota  Dewan  Pembina  yayasan  itu,  yakni  Djoko  Suyanto,
Purnomo  Yusgiantoro,  M.S.  Hidayat  dan  Sutanto.  Sedangkan  Bendahara
yayasan  itu  dijabat  oleh  Dessy  Natalegawa,  adik  kandung  Menlu  Marty
Natalegawa.

Ketiga  yayasan  yang  dibina  oleh  Ny.  Ani  Yudhoyono,  yakni  Yayasan
Mutu  Manikam  Nusantara,  Yayasan  Batik  Indonesia,  dan  Yayasan  Sulam
Indonesia,  juga  berpotensi  untuk  melakukan  kegiatan  yang  tumpang
tindih  dengan  Departemen‐Departemen  atau  lembaga‐lembaga  yang
dipimpin  –  atau  pernah  dipimpin  ‐‐  oleh  suami‐suami  para  ketua  yayasan‐
yayasan  itu,  yaitu  Departemen  Luar  Negeri  dalam  hal  Yayasan  Mutu
Manikam  Nusantara,  Dewan  Perwakilan  Daerah  (DPD)  dalam  hal  Yayasan
Batik  Indonesia,  dan  Departemen  Kebudayaan  dan  Pariwisata,  dalam  hal
Yayasan  Sulam  Indonesia.

Di  samping  itu,  ketua‐ketua  yayasan  yang  dibina  oleh  Ny.  Ani

Yudhoyono  itu  adalah  anggota  Solidaritas  Isteri  Kabinet  Indonesia  Bersatu
(SIKIB),  yang  juga  dipimpin  oleh  isteri‐isteri  Presiden  dan  Wakil  Presiden.

Duplikasi  antara  kegiatan  yayasan  dan  instansi‐instansi  pemerintah,
juga  sangat  berpotensi  terjadi  pada  yayasan‐yayasan  yang  berafiliasi
dengan  SBY  sendiri,  misalnya  dengan  Departemen  Agama,  dalam  hal
Yayasan  Majelis  Dzikir  SBY  Nurussalam  dengan  program  pengiriman
ulama  berumroh  ke  Arab  Saudi,  serta  dengan  berbagai  Departemen  dan
Pemerintah  Daerah,  dalam  hal  Yayasan  Puri  Cikeas  dan  Yayasan
Kesetiakawanan  dan  Kepedulian.  Itu  sebabnya,  auditing  terhadap
keuangan  yayasan‐yayasan  itu  menjadi  semakin  penting.Bukan  cuma
duplikasi,  malah  dualisme  pemerintahan,  dapat  terjadi  apabila  yayasan‐

yayasan  ini  dibiarkan  berkembang  dengan  bebas,  seperti  yang  telah  kita

alami  di  masa  kediktatoran  Soeharto,  dengan  seribu  satu  yayasannya  (lihat  Aditjondro  2003,  Ismawan  2007:  66‐89).

PELANGGARAN‐PELANGGARAN  UU  PEMILU  OLEH  CALEG‐ CALEG  PARTAI  DEMOKRASI  :

Potensi  pelanggaran  UU  Pemilu  karena  perangkapan  jabatan

sejumlah  pejabat  Kabinet  Indonesia  Bersatu  Jilid  II  dengan  anggota

kepengurusan  yayasan‐yayasan  itu,  masih  dibarengi  dengan  pelanggaran  hukum  yang  telah  dilakukan  oleh  sejumlah  kader   Partai  Demokrat.
Pemilu  kali  ini  ditandai  wabah  pembelian  suara  yang  semakin  terang‐
terangan,  dibandingkan  dengan  pemilu‐pemilu  yang  lalu.  Padahal,
praktek  ini  jelas‐jelas  dilarang  oleh  UU  No.  10/2008   tentang  Pemilu
Anggota  DPR,  DPD,  DPRD.  Pasal  84  melarang  semua  pelaksana,  peserta
dan  petugas  kampanye  “menjanjikan  atau  memberikan  uang  atau  materi  lainnya  kepada  peserta  kampanye”.

Sedangkan  Pasal  87   melarang  pelaksana  kampanye  “menjanjikan

atau  memberikan  uang  atau  materi  lainnya  sebagai  imbalan  kepada

peserta  kampanye  secara  langsung  atau  tidak  langsung  agar  memilih

Partai  Politik  tertentu;   memilih  calon  anggota  DPR,  DPRD  provinsi,  DPRD
kabupaten/kota  tertentu;  atau  memilih  calon  anggota  DPD  tertentu”.
Sanksinya,  penjara  antara  enam  sampai  24  bulan  serta  denda  antara  Rp.

6.000.000   dan  Rp.  24.000.000,  menurut   Pasal  270  dan  274.

Padahal  praktek  pembelian  suara  yang  dilakukan  oleh  caleg‐caleg  Demokrat  di  berbagai  wilayah,  merupakan  salah  satu  faktor  kemenangan  Partai  Demokrat  yang  begitu  fantastis,  yakni  melonjak  nyaris  tiga  kali  lipat  dari  7%  menjadi  20%  lebih.

Ambillah  sebagai  contoh  di  Sumatera  Utara.  Waktu  kampanye

pemilu  lalu,  Marlan  Nainggolan,  caleg  PDP  di  Tapanuli  Utara  (Taput)

membagi‐bagi  kerbau  dan  babi  ke  pemilih,  Sihar  Sitorus,  anak  DL  Sitorus,
pengusaha  pembalakan  hutan,  yang  menjadi  caleg  PPRN,  menyumbang
Rp  3  juta  ke  gereja  HKBP  dekat  bandara  Silangit.  Sedangkan  Fernando
Sihombing,  caleg  Golkar  membagi  sekarung  pupuk  kepada  setiap  pemilih.

Namun  itu  semua  belum  apa‐apa  dibandingkan  dengan

“sumbangan”  Jhonny  Allen  Marbun,  caleg  Demokrat  yang  terlibat  kasus  suap  Rp  1  milyar  untuk  proyek  Dephub  (Tempo,  5  April  2009).  Ia  berulang   kali  mengumpulkan  petani  di  Humbang  Hasundutan  (Humbahas),  Taput,  dan  Samosir,  dan  membagi‐bagi  puluhan  ton  bibit  jagung  kepada  mereka.  Januari  lalu,  di  Dolok  Sanggul,  ibukota  Humbahas,  ia  menyerahkan  500  baju  batik  buat  para  kepala  desa,  21  unit  komputer  untuk  sekolah,  dan  Rp  200 juta  untuk  perbaikan  gereja  dan  mesjid.

Sebelumnya,  4  Januari  2009,  dalam  upacara  di  tanah  lapang

Pangururan,  Samosir,  yang  dihadiri  Hadi  Utomo,  Ketua  Umum  DPP  Partai  Demokrat  yang  ipar  SBY,  selain  membagi‐bagi  bibit  jagung  kepada  petani,  Jhonny  Allen  menyerahkan  Rp  300  juta  untuk  perbaikan  gereja  dan  mesjid  serta  20  unit  komputer  untuk  sekolah.  Berbagai  “sumbangan”  itu  ikut
mendorong  Jhonny  Allen  memenangkan  tiket  Demokrat  ke  Senayan,
untuk  kedua  kalinya,  dengan  memperoleh  91.763  suara.

Pelanggaran  terhadap  Pasal  84  dan  87  UU  No.  10/2008,  tidak  cuma
terjadi  di  Sumatera  Utara,  tapi  juga  di  basis‐basis  kemenangan  Partai
Demokrat  yang  lain,  yang  sempat  penulis  amati,  seperti  di  Kabupaten
Poso,  Sulawesi  Tengah,  dan  di  Nanggroe  Aceh  Darussalam  (NAD).  Di
Poso,  Amsal  Hasyim,  seorang  caleg  dari  Partai  Demokrat,  menjanjikan
pembagian  pesawat  televisi  dan  traktor  tangan  buat  mereka  yang  mau
memilih  partai  berwarna  biru  itu.  Janji  itu,  baru  direalisasikan  akhir

November  lalu,  dan  diterima  dengan  suka  cita.  Rupanya  rakyat  di  bekas  daerah  konflik  itu  tidak  menyadari  bahwa  janji  yang  diobral  kader  Partai  Demokrat  itu,  melanggar  Pasal  87  UU  No.  10/2008  itu.

Walhasil,  Amsal  Hasyim,  kontraktor  yang  disuruh  oleh  Piet

Inkiriwang,  purnawirawan  polisi  yang  Bupati  merangkap  ketua  DPC

Partai  Demokrat  Kabupaten  Poso,  untuk  mengetuai  PAC  Partai  Demokrat  Kecamatan  Pamona  Utara  di  Tentena,  berhasil  menjadi  anggota  DPRD  Kabupaten  Poso  dari  Partai  Demokrat.

Di  Jawa  Tengah,  terjadi  juga  banyak  kasus  pembelian  suara  (vote
buying)  atau  ‘politik  uang’  (money  politics),  yang  melibatkan  caleg  Partai
Demokrat  maupun  partai  lain,  namun  hanya  sedikit  yang  ditangani  oleh
Panwalu  dan  disidangkan.  Yang  ditangani  oleh  Panwaslu  misalnya  adalah
laporan  dari  YSA  Widayana,  warga    Karang,  Plumbon,  Mojolaban  di
Kabupaten  Sukoharjo.  Ia  melaporkan  tindakan  Bambang  yang  meminta
warga  untuk  memilih  Partai  Demokrat  (Seputar  Indonesia,  11  April  2009).

Lebih  menghebohkan  lagi  adalah  kasus  pelanggaran  Pemilu  2009
yang  mulai  disidangkan  di  Pengadilan  Negeri  Bantul,  hari  Jumat,  8  Mei
2009. Kedua  terdakwa  dalam  kasus  itu  adalah  Sri  Yuli  Waryati,  caleg
untuk  DPRD  Bantul  dari  Dapil  2  dan  Siti  Shoimah,  caleg  DPRD  DIJ  dari
daerah  pemilihan  Kabupaten  Bantul.  JPU  Widagdo  M.  Petrus  menuntut
kurungan  tiga  hingga  12  bulan  penjara  dengan  denda  Rp  10  juta,  subsider
enam  bulan  kurungan,  hanya  karena  kedua  terdakwa  menggelar  pasar
murah  di  Dusun  Mangir  Lor,  Desa  Sendangsari,  Pajangan,  Bantul,  DIY
(Radar  Jogja,    9  Mei  2009).

Ceritanya  begini.  Pada  saat  bazar  murah  digelar,  Minggu,  29  Maret,  Sri  Yuli  Waryati  membagi  kupon  pembelian  sembako,  yang  hanya
diberikan  kepada  warga  yang  telah  mengisi  formulir  dan  menjadi  anggota  Partai  Demokrat.  Hari  Minggu  berikut,  5  April,  Sri  Yuli  Waryati

memperkenalkan  Shoimah  kepada  masyarakat  di  Lapangan  Mangir  Loro,  dengan  membagi‐bagi  uang  sebesar  Rp  5  ribu  seorang  dan  selembar  kaos  oblong  (idem).

Semua  itu  belum  apa‐apa,  dibandingkan  dengan  pembelian  suara

yang  dilakukan  oleh  putra  bungsu  SBY,  Edhie  Baskoro  Yudhoyono  (EBY),
alias  Ibas,  di  kampung  halaman  ayahnya  di  Pacitan,  Jawa  Timur,  April
lalu.  Menurut  laporan  dua  orang  saksi,  tim  kampanye  EBY  membagi‐bagi
amplop  berisi  uang  Rp  10  ribu  disertai  foto  EBY  ke  calon‐calon  pemilih  di
Desa  Clembem,  Kecamatan  Jambon,  Kabupaten  Ponorogo,  3  April  lalu.

Namun  setelah  kasus  ini  terungkap  di  berbagai  media  lokal  dan
media  online,  bukan  Bawaslu  dan  Panwaslu  yang  bergerak,  melainkan
Polri,  sedangkan  para  pimpinan  media  yang  bersangkutan  mendapatkan
teguran  keras  dari    jurubicara  kepresidenan,  Dino  Patti  Djalal.  Kedua  saksi
-M.  Naziri  dan  Bambang  Krisminarso  –  serta  pimpinan  situs
JakartaGlobe.com  dan  Okezone.com,  dan  wartawan  Harian  Bangsa   diperiksa
oleh  polisi,  dengan  tuduhan  pencemaran  nama  baik  EBY  juncto
pelanggaran  pasal  45  ayat  1  UU  No.  11/2008  tentang  Teknologi  Informasi
juncto   pasal  55  KUHP.

Akhirulkalam,  Kapolda  Jatim  Irjen  (Pol)  Anton  Bachrul  Alam

membantah  bahwa  EBY  telah  melakukan  money  politics,  malah  sebaliknya
menuduh  para  saksi  dan  pekerja  media  melakukan  pencemaran  nama  baik  putra  presiden,  yang  juga  berarti,  penistaan  terhadap  presiden  (Antara
News,  8  April  2009).

Walaupun  semua  tertuduh  akhirnya  dibebaskan,  EBY  pun

dibebaskan  dari  tuduhan  pelanggaran  Pasal    84  UU  No.  10/2008,  dan

berhasil  mengalahkan  para  caleg  lain,  termasuk  Ramadhan  Pohon,

pesaingnya  yang  separtai,  mendapatkan  tiket  ke  Senayan.  Padahal,  seperti

kesaksian  salah  seorang  pimpinan  media  yang  diperkarakan,  pembagian  amplop  berisi  uang  dan  foto  EBY  itu  betul‐betul  terjadi.

Ada  lagi  pelanggaran  pasal  dalam  UU  No.  10/2008,  yang  telah

menghasilkan  banyak  suara  pemilih  buat  Partai  Demokrat,  malah

kemenangan  yang  hampir  mutlak  di  Nanggroe  Aceh  Darussalam  (NAD).
Dalam  Pemilu  lalu  mantan  kombatan  yang  beralih  menjadi  anggota  Partai
Aceh  (PA)  bebas  “menuntun”  pemilih  yang  tua  dan  butahuruf
mencontreng  caleg  dan  logo  PA  dan  Demokrat,  terutama  di  bekas  basis
GAM,  tanpa  dihalangi  aparat  keamanan.  Makanya,  di  sebuah  kecamatan
di  Kabupaten  Pidie,  Demokrat  mendapatkan  100%  suara  untuk  DPR‐RI
dan  PA  100%  suara  untuk  DPRA  dan  DPRK.  Hasilnya,  perolehan  suara
teratas  di  Aceh  direbut  oleh  PA,  disusul  oleh  Demokrat,  Golkar,  dan  PKS.
Sedangkan  partai  lokal  lain,  hanya  memperoleh  beberapa  kursi  di  DPRA
dan  DPRK‐DPRK.

Makanya,  perlu  dipertanyakan,  apakah  “bantuan”  yang  diberikan  oleh  para  kader  PA  untuk  menuntun  para  pemilih  yang  tua  dan  buta
huruf,  untuk  secara  khusus  mencontreng  logo  dua  partai  saja,  satu  untuk  duduk  di  DPR‐RI  dan  satunya  lagi  untuk  duduk  di  DPR  Aceh  dan  DPR  Kabupaten,  tidak  bertentangan  dengan  Pasal  156  UU  No.  10/2008,  ayat  1  dan  2  yang  berbunyi  sebagai  berikut:

Ayat  (1):  Pemilih  tunanetra,  tunadaksa,  dan  yang  mempunyai

halangan  fisik  lain  saat  memberikan  suaranya  di  TPS  dapat  dibantu  oleh  orang  lain  atas  permintaan  pemilih.

Ayat  2:  Orang  lain  yang  membantu  pemilih  dalam  memberikan  suara  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  wajib  merahasiakan  pilihan  pemilih.

Memang,  kebanyakan  pemilih  yang  tua  dan  buta  huruf,  belum  tentu  menderita  halangan  fisik  yang  digambarkan  dalam  Pasal  156  ini.  Namun  inti  pasal  ini  adalah  bahwa  semua  orang  harus  mendapatkan  kesempatan  yang  sama  untuk  memilih  calon  yang  diharapkannya  dapat  membawakan  aspirasinya.  Nah,  apakah  dengan  menggiring  secara  halus  satu  bagian  yang  cukup  besar  untuk  memilih  satu  partai  nasional,  yang  belum
dikenalnya,  jiwa  pasal  ini  terpenuhi?  Atau  justru  dilanggar?

Melihat  banyaknya  pelanggaran  UU  Pemilu  yang  telah  terjadi  selama
Pemilu  legislatif  dan  Pilpres  lalu,  mulai  dari  besarnya  biaya  kampanye
yang  dikelola  oleh  tim‐tim  siluman  yang  tidak  terdaftar  personalia
maupun  anggarannya,  pembelian  suara  lewat  pembagian  uang  dan  barang
kepada  pemilih,  termasuk  yang  dilakukan  oleh  Edhi  Baskoro  Yudhoyono,
bantuan  negara  asing  seperti  melalui  IFES  (International  Foundation  for
Electoral  Systems),  ornop  AS  yang  dibantu  oleh  USAID,  yang  dilibatkan
oleh  KPU  dalam  proses  penghitungan  suara,  serta  penggiringan  suara
sebagian  besar  pemilih  di  Aceh,  maka  legalitas  hasil  Pemilu  yang  lalu  patut
dipertanyakan.

Walaupun  partai‐partai  lain  ikut  menjalankan  berbagai  pelanggaran
UU  Pemilu  itu,  namun  Partai  Demokrat,  yang  merupakan  kendaraan
politik  incumbent  president,  tidak  menunjukkan  teladan  dalam  mematuhi
UU  Pemilu.  Hanya  saja,  kenetralan  KPU  dan  Bawaslu  yang  patut
dipertanyakan,  serta  pembelokan  perhatian  publik  akibat  peledakan  bom
di  dua  hotel  di  kawasan  Mega  Kuningan,  Jakarta,  17  Juli  lalu,  membuat
semua  kecurangan  dalam  pelaksanaan  Pemilu  belum  sempat  disorot
secara  mendalam.

KESIMPULAN

Uraian  dalam  buku  ini  mudah‐mudahan  tidak  hanya  menjawab
rahasia  di  balik  skandal  Bank  Century,  melainkan  lebih  luas  lagi,  yakni
menjawab  rahasia  di  balik  kemenangan  yang  begitu  fantastis  dari  Partai  Demokrat,  yang  naik  tiga  kali  lipat  dalam  satu  periode  pemerintahan,  dari  sekitara  7  %  menjadi  sekitar  20%.

Penggalangan  dana  yang  luar  biasa,  serta  besarnya  pembelian  suara  (vote  buying)  sesungguhnya  memainkan  peranan  yang  besar  dalam
melonjaknya  angka  pemilih  Partai  Demokrat  dan  calon  presidennya,  dan  bukan  hanya  kehebatan  kharisma  SBY  dan  kesuksesan  periode
kepresidenannya  yang  lalu,  yang  dikemas  dengan  hebat  oleh  Fox
Indonesia  dalam  iklan‐iklan  televisinya.

Resistensi  Partai  Demokrat  terhadap  penggunaan  hak  angket  DPR
untuk  mengungkapkan  skandal  Bank  Century,  walaupun  akhirnya  ikut
mendukung  prakarsa  sebagian  anggota  DPR,  bahkan  tanpa  malu‐malu
menunjukkan  keinginan  menjadi  Ketua  Panitia  Khusus  hak  angket  itu,
menjadi  indikasi  betapa  besarnya  keinginan  petinggi‐petinggi  partai  itu
untuk  menutupi  hal‐hal  yang  mencurigakan  dalam  pemberian  dana

talangan  yang  jauh  melebihi  yang  sudah  disepakati  oleh  parlemen.

Walaupun  belakangan  ini  ada  gerakan  dari  sejumlah  individu  Partai
Demokrat  untuk  menangkis  tuduhan  bahwa  mereka  menerima  dana
puluhan,  bahkan  ratusan  milyar  rupiah  dari  Bank  Century,  toh  masih  ada
tanda  tanya,  ke  mana  larinya  lima  trilyun  rupiah  yang  lenyap  ke  tangan
“fihak  ketiga”  dalam  hanya  kurang  dari  setahun  (Juni  2008  –  Juni  2009).

Sorotan  terhadap  beberapa  beberapa  nasabah  terbesar  Bank  Century,  khususnya  Hartati  Murdaya  dan  Boedi  Sampoerna,  sangat  wajar,
mengingat  besarnya  bantuan  kedua  kelompok  bisnis  yang  mereka  pimpin
bagi  kampanye  Partai  Demokrat  dan  calon  presidennya,  yang  dimulai  oleh  Hartati  Murdaya  menjelang  Pemilu  2004  dan  semakin  meningkat
menjelang  Pemilu  2009.

Sedangkan  dari  kelompok  Sampoerna,  investigasi  kami  menemukan
dukungan  dana  sebesar  Rp  90  milyar  kepada  kelompok  media  Jurnal
Nasional    yang  dekat  dengan  Partai  Demokrat  dan  SBY  sejak  2006,  di  saat
injeksi  dana  ke  kelompok  Jurnas  mulai  digantikan  oleh  pengusaha‐
pengusaha  yang  dekat  dengan  keluarga  Cikeas,  di  bawah  pimpinan  Gatot
Mudiantoro  Suwondo,  yang  kebetulan  juga  Direktur  Utama  BNI.

Kebutuhan  akan  dana  kampanye  yang  semakin  meningkat,  yang
terdongkrak  oleh  besarnya  biaya  “pencitraan”  SBY  melalui  media,  serta
meluasnya  jangkauan  “kedermawanan”    yayasan‐yayasan  yang  berafiliasi
ke  SBY  dan  Ny.  Ani  Yudhoyono,  membuat  keluarga  Cikeas  semakin
tergantung  pada  sejumlah  pengusaha  kelas  kakap  yang  berasal  dari  era
Soeharto,  seperti  Syamsul  Nursalim,  Hartati  Murdaya,  dan  kelompok
Sampoerna,  maupun  yang  muncul  di  era  SBY,  seperti  PT  Powertel  dan
Batik  Allure.

Kebutuhan  akan  dana  kampanye  yang  begitu  besar,  dibarengi
dengan  ambisi  sebagian  anggota  Dinasti  Sarwo  Edhie  Wibowo  untuk
memperkaya  diri  mereka,  menimbulkan  kerentanan  keluarga  Cikeas
terhadap  pengusaha‐pengusaha  dan  makelar‐makelar  kasus  yang
berusaha  menempel  ke  keluarga  itu,  seperti  Syamsul  Nursalim,  salah
seorang  pengemplang  dana  BLBI,  yang  sudah  berhasil  mengelabui  tiga
presiden  berturut‐turut,  berkat  kedekatan  Arthalyta  Suryani,  yang  juga
dikenal  sebagai  “Ayin”,  dengan  Ani  Yudhoyono,  dalam  kedudukannya

sebagai  Bendahara  Yayasan  Mutu  Manikam  Nusantara  yang  diketuai  oleh  isteri  mantan  Menlu  Hasan  Wirayuda.

Berbicara  lebih  lanjut  tentang  yayasan‐yayasan  yang  dibina  oleh  SBY  dan  Ny.  Ani  Yudhoyono,  kita  bisa  lihat  bahwa  kepengurusan  yayasan‐
yayasan  itu  bukan  orang‐orang  yang  punya  latar  belakang  dalam
kedermawanan  (filantropi),  melainkan  terdiri  dari  sejumlah  menteri,
mantan  menteri,  purnawirawan  perwira  tinggi  yang  kebanyakan  se‐
angkatan  dengan  SBY,  sejumlah  pengusaha,  dan  anggota  keluarga  besar  SBY‐Ani  Yudhoyono  yang  juga  sudah  terjun  ke  bidang  usaha,  yakni
Hartanto  Edhie  Wibowo  dan  Edhie  Baskoro  Yudhoyono.

Hartanto,  adik  bungsu  Ny.  Ani  Yudhoyono,  telah  terjun  ke  bisnis
serat  optik  di  PT  Powertel,  bersama  adik  Menko  Perekonomian  M.  Hatta
Rajasa,  dan  pada  awalnya  difasilitasi  proyek‐proyeknya  oleh  Hatta  Rajasa,
selagi  yang  bersangkutan  masih  menjabat  sebagai  Menteri  Perhubungan.
Sedangkan  Edhie  Baskoro  Yudhoyono,  anak  bungsu  SBY  dan  Ny.  Ani
Yudhoyono,  baru  mulai  terjun  dalam  bisnis  kue  kering,  dibantu  oleh
seorang  pengusaha  swasta  yang  sudah  berlangganan  di  bidang  itu.

Dengan  demikian,  mantan  jenderal  yang  mulai  20  Oktober  lalu

mengendalikan  kendali  republik  ini,  perlu  bekerja  keras  untuk

menciptakan  pemerintahan  bersih  di  negeri  kita.  Guna  mengakhiri  tradisi
politik  buruk  yang  dirintis  mendiang  Jenderal  Soeharto,  SBY  perlu
bersikap  lebih  tegas  terhadap  keluarga  besarnya  sendiri,  agar  tidak  ada
anak,  ipar,  kerabat  atau  sahabat  yang  mengambil  jalan  pintas
mengembangkan  bisnis  mereka  dengan  mendekati   bankir‐bankir
pemerintah  serta  birokrat‐birokrat  papan  atas,  untuk  mendapatkan  order‐
order  kelas  kakap.

Tambahan  lagi,  SBY  juga  perlu  mendorong  kerabat  dan  sahabatnya  untuk  menolak     pemberian  kemudahan  dalam  penyediaan  jasa  jalan,

listrik,  dan  bahan  bakar  bersubsidi,  buat  pengembangan  pabrik  yang  baru  berdiri  kemarin  sore.

Sikap  tegas  terhadap  keluarga  dan  sahabat  merupakan  dasar  moral
untuk  mengambil  sikap  tegas  terhadap  semua  pejabat  yang  melakukan
komersialisasi  jabatan,  sebagaimana  teladan  Presiden  Korea  Selatan,  Kim
Young  San,  yang  menjebloskan  kedua  pendahulunya  –  Chun  Doo‐Hwan
dan  Roh  Tae‐Woo  –  ke  penjara,   karena  korupsi  dan  pembantaian  aktivis
pro‐demokrasi.  Walaupun  kemudian  kedua  jenderal  itu  diberinya  grasi
dari  vonis  hukuman  mati  dan  hukuman  penjara  22,5  tahun,  Presiden

Korsel  itu  juga  menyerahkan  anaknya,  Kim  Hyon  Chul,  untuk  diadili,  karena  sang  anak  menerima  sogokan  dari  maskapai  Hanbo  Steel,  konon  untuk  menggalang  dana  bagi  kampanye  ayahnya  (Alkostar  2008:  176‐80;  Washington  Post,    25  Januari  2007;  New  York  Times,  18  Mei  1997).

Selanjutnya,  untuk  mengakhiri  tradisi  yang  dirintis  oleh  Soeharto,

sebaiknya  yayasan‐yayasan  yang  menggunakan  nama  SBY  maupun  nama  kediaman  pribadinya,  berhenti  memanfaatkan  figur‐figur  pemerintah  dalam  struktur  organisasinya.

Rakyat  yang  cerdas  juga  tidak  akan  menuntut  Kepala  Negara

memberi  makan  ribuan  orang  miskin  di  Istana  Negara  atau  kediaman

pribadinya,  sebab  Presiden  bukanlah  Raja  yang  kaya  raya,  dan  memberi  makan  fakir  miskin  bukan  tugas  Presiden  dan  keluarganya,  melainkan  merupakan  tugas  sejumlah  lembaga  resmi,  sesuai  dengan  ketentuan  Pasal  34 Undang‐Undang  Dasar  1945.

Yayasan‐yayasan  yang  ada  kaitan  dengan  SBY,  Ny.  Ani  Yudhoyono,  serta  kerabat  dan  sahabatnya,  sebaiknya  diaudit  oleh  auditor  publik  yang  independen,  dan  hasilnya  dilaporkan  ke  parlemen,  serta  terbuka  bagi
media  dan  internet.  Bukan  diaudit  oleh  auditor  langganan  para  bankir  yang  juga  duduk  dalam  pengurus  yayasan‐yayasan  itu.

Tujuan  semua  langkah  itu  supaya   yayasan‐yayasan  sosial  yang

dekat  dengan  oknum‐oknum  penguasa   jangan  lagi  menjadi  pembuka  jalan  bagi  korporasi‐korporasi  raksasa  untuk  mendapat  perhatian  khusus  dari  pemerintah,  seperti  tradisi  Orde  Baru  (lihat  Radjab  1999:  47‐8;  Aditjondro  2003;  Aditjondro  2006;  Ismawan  2007;  Zen  &  Kristianto  2007).

Dibarengi  pembenahan  ke  dalam  lingkaran  kerabat  dan  sahabat  SBY  ini,  pemerintahan  mendatang,  didukung  oleh  parlemen  dan  lembaga
peradilan,  selayaknya  menjalankan  transparansi  dalam  hal  melaporkan  kekayaan  dan  jaringan  bisnis  mereka  kepada  rakyat  Indonesia.  Tujuannya  supaya  rakyat  dapat  mengontrol  pejabat  yang  mereka  pilih  dan
percayakan  nasib  bangsa  ini  lima  tahun  ke  depan.

Jelasnya,  transparansi  kekayaan  pejabat  bertujuan  supaya  semua

keputusan  ekonomi  dan  politik  yang  diambil,  betul‐betul  demi

kemaslahatan  rakyat  banyak,  terutama  mereka  yang  paling  dipinggirkan.  Bukan  demi  ekspansi  perusahaan  milik  kerabat  dan  sahabat,  dengan  dalih,  menciptakan  lapangan  kerja.

REFERENSI  :

Aditjondro,  George  Junus  (2003).  Dari  Soeharto  ke  Habibie:  Guru  Kencing
Berdiri,  Murid  Kencing  Berlari:  Kedua  Puncak  Korupsi,  Kolusi,  dan  Nepotisme
Rezim  Orde  Baru.  Jakarta:  MIK  (Masyarakat  Indonesia  untuk  Kemanusiaan)  &  Pijar  Indonesia.

‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐2006).  Korupsi  Kepresidenan:  Reproduksi  Oligarki  Berkaki  Tiga:  Istana,  Tangsi,  dan  Partai  Penguasa.  Yogyakarta:  LKiS.

‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐(2007).  ‘Dialektika  antara  Agency  dan  Struktur  dalam

Penelaahan  Korupsi  di  Indonesia:  Membangun  Gerakan  Anti  Korupsi  yang  Lebih  Merakyat.”  Renai,   No.  2,  Salatiga:  PERCIK,  hal.  8‐23.

‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐  (2009).  “Menyambut  Era  SBY  Kedua  Yang  (Mudah‐mudahan)
Lebih  Bersih  dari  Era  SBY  Pertama,”  Scientiae  Polites,  Vol.  28,  hal.  1‐10.

Alkostar,  Artidjo  (2008).  Korupsi  Politik  di  Negara  Modern.  Yogyakarta:  FH  UII  Press.

Angkasa  Pura  II  (2007).  Laporan  Tahunan  2007/  2007  Annual  Report:  Together  We  Build  A  Better  Future.  Jakarta:   PT  Angkasa  Pura  II.

Ardi,  Yosef  &  Rahmon  Amri  (penyunting)  (2008).  JSX  Watch  2008‐2009.  Jakarta:  Pustaka  Bisnis  Indonesia.

Bank  Bukopin  (2002).  Laporan  Tahunan  2002.  Jakarta:  Bank  Bukopin.

‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐  (2006).  Bank  Bukopin  Tbk  Company  Report  :  December  2006  As  of  28  December  2006.  Jakarta:  Bank  Bukopin.

Ismawan,  Indra  (2007).  Harta  dan  Yayasan  Soeharto:  Kontroversi  tentang  Kekayaan  dan  Dugaan  Korupsi  Soeharto.  Jakarta:  PT  Buku  Kita.

Masayok  (2008),  Husein  Al  Habsy  Minta  KPK  Selidiki  Majelis  Dzikir  SBY,  posted  on  the  internet  on  August  25.

McBeth,  John  (2007).  “All  the  President’s  Men.”  The  Straits  Times  News.  2  Agustus.

Nikmah,  Siti  Khoirun  &  Valentina  Sri  Wijiyati  (2008).  My  Dear  Train,  My

Poor  Train:  Railway  Efficiency  Project  (Proyek  Efisiensi  Perkeretapian).  Working  Paper  No.  1.  Jakarta:  INFID  (International  NGO  Forum  on  Indonesian
Development).

PDBI  (1997).  Conglomeration  Indonesia.  Vol.  3.  Jakarta:  Pusat  Data  Business  Indonesia  (PDBI).

Radjab,  Suryadi  A.  (1999).  Praktik  Culas  Bisnis  Gaya  Orde  Baru.  Jakarta:  Grasindo.

Rusly,  Haris  (2009).  “Ini  Boedi,  Itu  Century.”  Terawang,    No.  1,  November,  hal.  46‐48.

Zen,  Patra  M.  &  Agustinus  Edy  Kristianto  (2007).  Menyusup  Dalam  Gelap:  Wajah  Hitam  Kejayaan  Salim  Group.  Jakarta:  Yayasan  LBH  Indonesia.

2 thoughts on “Gurita Cikeas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s