Belajar dari Pendiri Google

larry-page-sergey-brinSabtu malam 31 Mei 2008 Metro TV menayangkan Biography pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Dua anak muda ini berhasil mengubah dunia dengan mesin pencari kata yang dapat menemukan apa yang kita cari dalam 0.59 detik. Saat mendirikan Google, mereka adalah mahasiswa PhD yang sama-sama masih berumur 23 tahun.

Dari segi bibit, keduanya mewarisi kecerdasan orangtua masing-masing yang merupakan profesor. “Pantesan aja pintar”, kata kita yang iri. Padahal, tidak sedikit juga anak profesor yang jadi orang biasa saja. Sergey hijrah dari Rusia pada saat dia berumur 6 tahun sehingga dia merasakan bagaimana perjuangan keluarga imigran.

Mulanya, Larry dan Sergey menawarkan proposal kepada perusahaan yang sudah ada untuk menjalankan ide mereka. Tetapi, tidak ada perusahaan yang mau dengan anggapan sudah ada mesin pencari kata, dan tidak perlu ada yang baru lagi. Dengan penolakan ini akhirnya mereka mendirikan sendiri perusahaan mereka.

Penemu biasanya memang selalu mendapatkan penolakan. Dengan kegigihan dan keyakinan, biasanya sang penemu berhasil mewujudkan impiannya.

Salah satu yang menarik dari mereka adalah niat awal pendirian Google bukanlah untuk mencari uang, tetapi lebih kepada untuk menyebarkan informasi kepada umat manusia. Wah, mulia banget ya.

Memang biasanya, penemu atau orang besar berhasil berpikir melampaui jamannya, tidak seperti pola pikir orang awam yang sekedar bermaksud memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita sekolah biar pintar. Setelah pintar mudah cari kerja. Kerja untuk cari duit. Dengan banyak duit kita bisa hidup senang.

Lary dan Sergey bukanlah tipe orang yang berpikir seperti orang kebanyakan. Karena itu, barangkali kita harus lebih memberi pendidikan kepada anak-anak kita untuk berpikir seperti mereka berdua. Kalau menurut pakar motivasi, kita harus mendahulukan to be bukan to have. Jika to be sudah tercapai, biasanya to have akan mengiringinya dengan sendirinya,

Salah satu yang menarik lainnya adalah, kehidupan mereka yang tetap sederhana. Dengan jumlah kekayaan masing-masing senilai 4 milyar dolar AS atau sekitar 36 trilyun rupiah, sebenarnya mereka bisa beli apa saja. Kebalikannya, mereka tetap hidup zuhud. Bahkan Larry belum mengganti mobil Hondanya yang sudah berumur 10 tahun. Mereka juga masih tinggal di apartemen, gaya hidup yang efisien bagi warga Amrik sono.

Hal ini sangat kontras dengan kelakuan kebanyakan kita yang perusahaannya baru berkembang, karirnya baru menanjak, tetapi sudah bergonta-ganti mobil. Kredit lagi… Yang penting mah gaya euy….Biar tekor asal kesohor.

Setelah perusahaan berkembang, dari karyawan yang dulu cuma 100 orang, kini sudah lebih dari 10.000 orang, Larry dan Sergey sadar bahwa mereka tidak bisa lagi terus memimpin. Karena itu, mereka merekrut seorang profesional yang menjadi CEO Google. Kesadaran ini perlu diteladani para pemimpin kita yang sudah lama berkiprah tetapi tidak mau mundur, bahkan ingin kembali memerintah.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s